Senja di Balik Batas

Sutan Azis
Chapter #3

Ujian Pertama

Keputusan untuk berbicara dengan orang tua masing-masing terasa seperti beban raksasa yang harus dipikul Arjun dan Aisha. Mereka tahu, ini adalah pertaruhan terbesar dalam kisah cinta mereka. Harapan itu ada, namun ketakutan akan penolakan jauh lebih besar. Sebuah janji tak terucapkan untuk saling mendukung menguatkan langkah mereka.

Aisha memutuskan untuk memulai dengan Ibunya. Ia merasa sang Ibu adalah sosok yang paling bisa memahami perasaannya, meskipun ia tahu prinsip agama tetaplah benteng kokoh bagi Ibunya. Suatu sore, ketika Ayah sedang tidak di rumah, Aisha mendekati Ibunya yang sedang menyiram tanaman di halaman belakang.

"Ibu, aku ingin bicara sesuatu," kata Aisha, suaranya sedikit bergetar.

Ibunya menoleh, senyumnya hangat seperti biasa. “Ada apa, Nak? Tumben serius sekali.”

Aisha duduk di bangku taman, mengajak Ibunya untuk ikut duduk di sampingnya. “Ini tentang ... tentang seseorang, Bu.”

Ibunya menatapnya penuh perhatian. “Seseorang? Lelaki?”

Aisha mengangguk. "Ya, Bu. Namanya Arjun." Ia menarik napas dalam-dalam. “Aku ... aku menyukainya, Bu. Bahkan mungkin, aku mencintainya.”

Ibunya tersenyum lembut. “Alhamdulillah, Nak. Ibu senang mendengarnya. Lalu, bagaimana orangnya? Anak siapa? Dari keluarga mana?”

"Dia ... dia baik sekali, Bu. Sangat pengertian, cerdas, dan punya jiwa seni yang tinggi. Dia fotografer," jelas Aisha, berusaha menyoroti sisi baik Arjun. Kemudian, ia tahu saat yang sulit telah tiba. “Tapi, Bu ... ada satu hal. Arjun ... dia bukan Muslim.”

Senyum di wajah Ibunya memudar perlahan. Kerutan muncul di dahinya. “Bukan Muslim? Maksud kamu ... dia beda agama, Nak?”

Aisha menunduk. “Ya, Bu. Dia Hindu.”

Keheningan menyelimuti mereka, hanya suara gemericik air dari keran yang terdengar. Aisha menunggu, jantungnya berdebar kencang.

"Aisha, kamu tahu kan prinsip keluarga kita?" kata Ibunya akhirnya, suaranya pelan namun tegas. “Menikah itu penyempurna agama, Nak. Harus seiman. Bagaimana bisa kamu membangun keluarga yang sakinah jika dari awal saja pondasinya sudah berbeda?”

"Tapi, Bu, aku yakin Arjun adalah orang baik. Dia sangat menghormati keyakinanku," Aisha mencoba membela.

"Menghormati itu satu hal, Nak. Tapi keyakinan itu inti. Bagaimana nanti dengan anak-anak kamu? Akan dibesarkan dengan agama apa?" Ibunya menatap Aisha dengan tatapan penuh kekhawatiran. “Aku tidak bisa membayangkan, Nak. Ini ... ini sulit sekali bagi Ibu.”

"Jadi, Ibu tidak merestui aku?" tanya Aisha, matanya mulai berkaca-kaca.

Ibunya meraih tangan Aisha, menggenggamnya erat. "Bukan tidak merestui, Nak. Tapi Ibu takut. Ibu takut kamu akan terluka. Ibu takut kamu akan menghadapi kesulitan yang besar. Dan yang lebih penting, Ibu takut kamu akan jauh dari jalan Allah." Ibunya menghela napas panjang. “Kamu tahu betul bagaimana Ayahmu. Bagaimana Kakek dan Nenekmu. Mereka tidak akan pernah bisa menerima ini.”

Lihat selengkapnya