Senja di Balik Batas

Sutan Azis
Chapter #4

Mencari Jalan Tengah

Setelah percakapan yang jujur dan menyakitkan dengan orang tua masing-masing, Arjun dan Aisha tahu bahwa mereka tidak bisa lagi berpura-pura masalah agama, budaya, dan suku tidak ada. Penolakan halus dari ibu mereka, yang notabene adalah sosok paling pengertian, sudah menjadi pertanda betapa beratnya rintangan yang akan mereka hadapi dari anggota keluarga lainnya yang lebih tradisional. Namun, keputusasaan itu justru memicu semangat baru dalam diri mereka. Mereka berjanji untuk mencari jalan, bukan menyerah.

"Jadi, apa rencana kita sekarang?" tanya Aisha saat mereka bertemu lagi, kali ini di perpustakaan kota, mencari ketenangan di antara rak-rak buku.

Arjun menghela napas. “Aku sudah banyak berpikir. Kita tidak bisa langsung mendobrak tembok itu, Aisha. Itu akan jadi bencana. Kita harus ... menyelinap masuk, sedikit demi sedikit.”

"Menyelinap masuk?" Aisha mengernyitkan dahi.

"Ya," Arjun mengangguk. “Aku rasa, hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat keluarga kita mengenal kita masing-masing. Bukan sebagai calon menantu beda agama, tapi sebagai individu. Sebagai teman. Sebagai orang yang baik.”

Aisha merenung. “Maksud kamu, kita memperkenalkan diri secara informal?”

"Betul sekali," Arjun mengiyakan. “Aku bisa mengajak kamu ke acara-acara kecil keluarga atau lingkungan yang tidak terlalu formal. Misalnya, acara gotong royong di banjar, atau mungkin saat aku membantu Ibu di pura. Bukan sebagai pasanganku, tapi sebagai temanku yang tertarik dengan budaya Bali.”

"Itu ide yang bagus," kata Aisha, matanya berbinar. “Tapi bagaimana dengan aku? Keluarga aku sangat dekat. Setiap akhir pekan selalu ada acara kumpul keluarga besar. Aku tidak tahu bagaimana cara membawa kamu ke sana tanpa menimbulkan kecurigaan.”

"Bisa dengan alasan pekerjaan, Aisha," usul Arjun. “Aku bisa bilang aku sedang mengerjakan proyek fotografi tentang keindahan budaya Sunda. Kamu bisa jadi 'narasumber' atau 'pemandu'ku. Itu akan jadi alasan yang logis untuk kita berinteraksi dengan keluargamu.”

Aisha tersenyum tipis. “Itu berisiko, Arjun. Kalau mereka tahu ....”

"Itu risikonya, Aisha," potong Arjun lembut. “Kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak mencoba. Dan kita harus siap untuk itu.”

Mereka menghabiskan beberapa jam lagi untuk menyusun strategi. Mereka sepakat untuk mengambil langkah kecil, pelan tapi pasti. Tujuannya adalah membiasakan keluarga mereka dengan keberadaan satu sama lain, menciptakan kesan positif, dan perlahan-lahan mengikis prasangka yang mungkin ada.

Beberapa minggu kemudian, Arjun menjalankan rencananya. Ia mengajak Aisha ke sebuah acara gotong royong bersih-bersih pura di lingkungan rumahnya di Jakarta. Aisha mengenakan pakaian sederhana namun sopan, rambutnya diikat rapi.

"Arjun, apakah ini ide yang bagus?" bisik Aisha, saat mereka berjalan mendekati pura. “Aku merasa sedikit gugup.”

"Tidak apa-apa, Aisha. Santai saja," Arjun menggenggam tangannya sebentar, memberi semangat. “Anggap saja kamu sedang observasi untuk proyek senimu. Nikmati saja prosesnya.”

Beberapa tetangga dan kerabat Arjun menyapa mereka dengan ramah. Ibunya, yang sudah diberitahu oleh Arjun bahwa ia akan datang dengan seorang teman yang tertarik pada budaya Bali, menyambut Aisha dengan senyum hangat, meskipun ada sedikit sorot mata penuh pertanyaan.

"Ibu, ini Aisha, teman yang aku ceritakan," kata Arjun. “Aisha, ini Ibuku.”

"Salam, Ibu," sapa Aisha dengan sopan, sedikit membungkuk.

Lihat selengkapnya