Sinyal peringatan dari keluarga masing-masing membuat Arjun dan Aisha menyadari betapa rumitnya situasi mereka. Pertemuan-pertemuan 'kebetulan' yang mereka rencanakan ternyata tidak cukup untuk meluluhkan prasangka yang telah mengakar. Sebaliknya, hal itu justru memicu kecurigaan dan kekhawatiran yang lebih dalam.
Beberapa hari setelah kunjungan ke Bandung, Arjun menerima telepon dari Ayahnya. Nada suaranya terdengar tidak biasa, lebih serius dari biasanya.
"Arjun, kamu sibuk?" tanya Ayahnya tanpa basa-basi.
"Tidak, Yah. Kenapa?" jawab Arjun, jantungnya mulai berdebar. Ia tahu, ini bukan panggilan biasa.
"Ayah ingin bicara serius denganmu. Pulanglah ke Bali akhir pekan ini," pinta Ayahnya. “Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”
Arjun menelan ludah. “Baik, Yah. Aku akan pulang.”
Ia tahu betul apa yang akan dibicarakan. Pasti tentang Aisha. Ada rasa takut yang merayap, namun juga tekad. Ia tidak akan lari.
Sesampainya di Bali, suasana di rumah terasa dingin. Ibunya menyambutnya dengan senyum getir, seolah tahu badai akan datang. Kakeknya, yang biasanya menyapa hangat, hanya mengangguk pelan tanpa senyum.
Malam harinya, setelah makan malam, Ayah, Ibu, dan Kakek Arjun duduk di bale banjar. Ayah menatap Arjun dengan tatapan serius.
"Arjun, Kakekmu dan Ibu sudah menceritakan tentang wanita yang kamu bawa ke pura beberapa waktu lalu," kata Ayah memulai. “Namanya Aisha, katanya Muslim, dan bukan dari Bali.”
Arjun menghela napas. “Ya, Yah. Dia Aisha. Dia temanku.”
"Teman?" Kakek Arjun menyahut, suaranya berat. “Sejak kapan cucuku punya teman sedekat itu sampai dibawa ke pura? Kami dengar kamu juga pergi ke Bandung dengannya.”
"Kek, dia teman kerjaku. Aku ada proyek di Bandung, dan dia membantuku," jelas Arjun, berusaha tenang.
"Tidak perlu mengelak, Arjun," Ayah memotong. “Ibumu sudah melihat bagaimana kamu menatapnya. Bagaimana kalian berinteraksi. Ini bukan sekadar teman, kan?”
Arjun terdiam. Ia tahu tidak ada gunanya berbohong. “Ya, Yah. Aku... aku mencintainya.”
Seketika, suasana menjadi tegang. Kakek Arjun menggebrak meja kayu kecil di depannya. “Apa yang kamu katakan, Arjun?! Kamu waras?! Kamu tahu siapa kamu? Kamu dari kasta Brahmana! Kamu dari keluarga pemangku! Bagaimana bisa kamu jatuh cinta pada wanita ... wanita dari luar, yang berbeda keyakinan?!”
"Kek, cinta itu tidak memandang kasta atau agama," Arjun mencoba menjelaskan.
"Omong kosong!" bentak Kakek. “Adat kita tidak mengenal cinta seperti itu! Perkawinan itu menyatukan darah, menyatukan klan, menyatukan keyakinan! Bagaimana kamu akan melanjutkan tradisi keluarga jika istrimu bukan Hindu? Bagaimana anak-anakmu nanti? Jangan nodai leluhur kita!”
Ibunya hanya menunduk, tidak berani menyela. Ayah Arjun mencoba menenangkan Kakek.