Keputusan untuk terus berjuang, meski dengan risiko besar, menyatukan Arjun dan Aisha dalam tekad yang lebih kuat. Mereka tahu, pertarungan ini tidak bisa dilakukan secara terbuka, setidaknya belum. Mereka harus bekerja dalam diam, mencari celah, dan mengumpulkan kekuatan.
Arjun kembali ke Jakarta dengan hati yang berat, namun pikirannya dipenuhi ide-ide baru. Setelah menghadapi keluarganya, ia menyadari bahwa demonstrasi cinta saja tidak cukup. Ia harus menunjukkan keseriusannya, bukan hanya pada Aisha, tetapi juga pada orang tuanya, bahwa ia memikirkan masa depan secara realistis.
Ia mulai menghubungi beberapa teman lama yang pernah menghadapi situasi serupa. Ada yang berhasil, ada pula yang terpaksa menyerah. Dari mereka, Arjun mendapat berbagai masukan. Beberapa menyarankan untuk meyakinkan salah satu pihak agar berpindah keyakinan, namun Arjun langsung menolak ide itu. Ia tahu, Aisha tidak akan melakukannya, dan ia pun tidak akan. Yang lain menyarankan untuk menikah secara diam-diam, namun hal itu juga terasa tidak benar. Mereka tidak ingin memulai hidup baru dengan kebohongan dan penyesalan.
Satu saran yang paling menarik perhatian Arjun adalah tentang dialog antaragama. Seorang teman merekomendasikan sebuah komunitas yang aktif dalam memfasilitasi diskusi tentang perbedaan keyakinan dan cara hidup berdampingan. Arjun memutuskan untuk bergabung. Ia ingin memahami lebih dalam tentang Islam, tidak hanya dari sudut pandang Aisha, tetapi juga dari perspektif yang lebih luas, sehingga ia bisa menemukan titik temu, atau setidaknya, argumen yang kuat untuk meyakinkan keluarganya.
Di sisi lain, Arjun juga mulai lebih aktif dalam kegiatan adat di banjar, mencoba mendekatkan diri pada Kakeknya. Ia rajin membantu di pura, terlibat dalam persiapan upacara, dan mendengarkan nasihat Kakeknya dengan penuh perhatian. Ia ingin menunjukkan bahwa meskipun ia mencintai Aisha, ia tidak akan meninggalkan akar budayanya. Ini adalah upaya untuk membuktikan kesetiaan ganda, berharap suatu saat Kakeknya akan melihat ketulusannya.
"Arjun, kamu akhir-akhir ini rajin sekali di pura," komentar Ibunya suatu sore, senyumnya sedikit mereda dari kekhawatiran.
"Ya, Bu. Aku hanya ingin belajar lebih banyak," jawab Arjun. Ia tahu Ibunya masih khawatir, namun setidaknya ada sedikit perubahan sikap.
Aisha pun tidak tinggal diam. Penolakan dari Kakek dan Neneknya sangat memukulnya, namun ia tahu ia harus berjuang. Ia mulai mencari literatur tentang pernikahan antaragama dalam Islam, khususnya pandangan dari berbagai mazhab dan ulama kontemporer. Ia menemukan bahwa ada beberapa pandangan yang lebih fleksibel, meskipun mayoritas tetap mengharamkan pernikahan Muslimah dengan non-Muslim. Namun, menemukan celah sekecil apapun sudah memberinya harapan.
Ia juga mulai lebih mendekatkan diri pada keluarga besarnya, terutama para bibi dan sepupu yang ia anggap lebih berpikiran terbuka. Aisha mencoba menyelipkan cerita tentang Arjun, bukan sebagai kekasihnya, melainkan sebagai seorang teman yang sangat baik, profesional, dan berwawasan luas. Ia sengaja menceritakan hal-hal positif tentang Arjun, menyoroti kecerdasannya, kejujurannya, dan rasa hormatnya terhadap budaya lain. Ia berharap, sedikit demi sedikit, mereka akan mulai melihat Arjun bukan sebagai "orang luar yang berbahaya" tetapi sebagai individu yang patut dihargai.
"Aisha, teman kamu yang fotografer itu sepertinya orangnya ramah, ya?" kata salah satu bibinya suatu kali, setelah Aisha menceritakan proyek Arjun tentang budaya Sunda. “Dia juga terlihat sopan.”