Senja di Balik Batas

Sutan Azis
Chapter #7

Titik Balik

Perjuangan diam-diam Arjun dan Aisha terus berlanjut, di tengah tekanan dan ekspektasi keluarga yang tak henti-hentinya. Setiap pertemuan rahasia adalah oase di tengah gurun, setiap pesan singkat adalah penguat semangat. Mereka belajar untuk menghargai setiap momen kecil kebersamaan, seolah itu adalah curian waktu dari takdir yang menentang.

Suatu sore, Arjun sedang membantu Ayahnya menyiapkan sesajen untuk upacara pujawali di pura desa. Ayahnya yang biasanya tenang, kali ini terlihat gelisah.

"Arjun," panggil Ayahnya tiba-tiba, tanpa menoleh. “Apa yang sedang kamu lakukan dengan hidupmu, Nak?”

Arjun menghentikan tangannya yang sedang merangkai janur. “Maksud Ayah?”

Ayahnya berbalik, menatap Arjun dengan tatapan lelah. “Ayah tahu kamu masih berhubungan dengan wanita itu, Aisha. Kakekmu terus menanyakan. Bibimu juga berbisik-bisik. Kamu tahu, ini membuat nama keluarga jadi tidak enak.”

"Ayah, aku serius dengan Aisha," Arjun berkata, mencoba untuk tetap tenang. “Dia wanita baik-baik.”

"Baik saja tidak cukup, Nak," kata Ayah. “Ayah sudah menjodohkanmu dengan Ni Luh, anak dari pamanmu di Karangasem. Keluarga mereka baik-baik, seiman, dan kasta pun sama. Ini demi masa depanmu dan keluarga kita.”

Jantung Arjun mencelos. Dijodohkan? Ini adalah ketakutan terbesarnya. “Ayah, aku tidak bisa! Aku tidak mencintai Ni Luh!”

"Cinta bisa tumbuh setelah menikah, Nak," Ayah berkata, nadanya tak terbantahkan. “Ini sudah menjadi kesepakatan keluarga besar. Ayah tidak bisa membatalkannya. Upacara nindih akan dilaksanakan dua bulan lagi.”

Arjun merasa darahnya mendidih. “Ayah tidak bisa melakukan ini padaku! Ini hidupku!”

"Ayah melakukan ini demi kebaikanmu, Arjun! Demi kebaikan keluarga kita!" Ayah membentak, suaranya naik satu oktaf. “Pikirkan nama baik keluarga. Pikirkan leluhur kita! Jangan egois!”

Arjun meninggalkan sesajen yang belum selesai dan berlari keluar pura, menuju pantai yang sepi. Angin laut yang kencang tidak mampu mendinginkan bara api di hatinya. Air matanya menetes, bercampur dengan butiran pasir yang dibawa angin. Ia merasa terjebak, terperangkap dalam jaring tradisi yang tak bisa ia putuskan.

Bersamaan dengan itu, Aisha juga menghadapi tekanan yang tak kalah berat. Ibunya memberitahunya bahwa ada seorang pria bernama Fikri, seorang pengusaha muda yang saleh dari keluarga terpandang di Bandung, yang tertarik padanya. Keluarga mereka sudah berbicara, dan Fikri dijadwalkan akan datang berkunjung ke rumah untuk taaruf.

Lihat selengkapnya