Udara terasa menipis bagi Arjun dan Aisha. Keputusan untuk melawan arus keluarga adalah pertaruhan terbesar mereka. Ada ketakutan, namun tekad untuk memperjuangkan cinta mereka jauh lebih besar.
Arjun terbangun dengan perasaan berdebar. Hari ini adalah harinya. Ia akan berbicara dengan Ayah dan Kakeknya, menghadapi badai yang selama ini ia hindari. Ia tahu, tidak ada jalan mundur. Ibunya menatapnya dengan tatapan cemas saat sarapan.
"Arjun, kamu yakin?" bisik Ibunya, menggenggam tangannya. “Kakekmu sedang tidak sehat akhir-akhir ini.”
"Aku harus melakukannya, Bu," jawab Arjun, menguatkan diri. “Ini demi masa depan aku.”
Setelah sarapan, Arjun mendatangi Ayah dan Kakeknya yang sedang duduk di bale banjar. Kakeknya sedang merapikan sesajen kecil, sementara Ayahnya membaca koran. Suasana terasa tegang.
"Yah, Kek, aku ingin bicara," Arjun memulai, suaranya berusaha tegas.
Ayahnya menurunkan koran, menatap Arjun. Kakeknya mendongak, matanya yang tua menatap tajam.
"Ada apa lagi, Arjun?" tanya Kakek, nadanya dingin. “Apakah kamu sudah berubah pikiran tentang perjodohan itu?”
"Ya, Kek. Aku sudah berubah pikiran," kata Arjun, menegakkan tubuh. “Aku tidak bisa menikahi Ni Luh. Aku hanya ingin menikahi Aisha.”
Seketika, Kakek Arjun bangkit berdiri. Matanya memancarkan amarah yang membara. “Arjun! Apa yang kamu katakan?! Kamu sudah gila?!”
"Aku tidak gila, Kek. Aku mencintai Aisha. Aku serius dengannya," Arjun bersikeras. “Dia wanita yang baik. Dia menghormati agama kita, adat kita.”
"Omong kosong!" Kakek membentak, suaranya menggelegar. “Menghormati saja tidak cukup! Dia bukan bagian dari kita! Bagaimana kamu bisa menghormati leluhurmu jika kamu menikahi orang di luar keyakinan?!”
Ayah Arjun mencoba menenangkan Kakek. "Kakek, tenanglah dulu." Kemudian, ia menatap Arjun. “Arjun, Ayah sudah bilang ini tidak mungkin. Ini akan membawa aib bagi keluarga kita. Nama baik kita akan tercoreng. Apakah kamu tidak memikirkan itu?”
"Aku memikirkannya, Yah! Tapi aku juga memikirkan kebahagiaanku! Apakah aku harus mengorbankan kebahagiaanku demi tradisi yang ... yang tidak adil ini?" Arjun balik bertanya, suaranya meninggi.
"Tidak adil?!" Kakek berteriak. “Ini adat! Ini warisan leluhur kita! Kamu sudah dibutakan oleh cinta sesaat! Pikirkan konsekuensinya, Arjun! Jika kamu tetap pada keputusanmu, maka kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini!”
Kata-kata Kakek menghantam Arjun seperti petir. Ia tahu Kakeknya tidak pernah main-main dengan ancamannya. Ibu Arjun yang mendengar keributan itu, keluar dan mencoba menengahi.