Kehidupan mandiri di Jakarta membawa Arjun dan Aisha pada kenyataan pahit yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Kebebasan datang bersama beban yang tak ringan. Tekanan finansial dan kerinduan pada keluarga mulai menggerogoti, menguji kekuatan cinta mereka.
Proyek-proyek fotografi Arjun, meskipun cukup banyak, seringkali tidak stabil. Ada bulan-bulan ketika ia kebanjiran pekerjaan, namun ada pula saat-saat sepi yang membuat dompetnya menipis. Aisha pun mengalami hal serupa. Pekerjaan kurasi lepas dan proyek seni tidak selalu datang tepat waktu, dan gajinya seringkali tak seberapa.
"Arjun, persediaan beras kita tinggal sedikit," kata Aisha suatu malam, saat mereka sedang memeriksa isi dapur indekos Aisha. Wajahnya terlihat cemas. “Dan sewa indekos kamu juga sebentar lagi jatuh tempo.”
Arjun menghela napas. “Aku tahu, Aisha. Aku sedang menunggu pembayaran dari klien yang terakhir. Semoga cepat cair.”
Mereka berdua mulai merasakan bagaimana kerasnya hidup di kota besar tanpa dukungan finansial keluarga. Makanan instan menjadi menu harian, dan hiburan hanyalah sekadar jalan-jalan di taman atau menonton film gratis di ponsel. Mereka mencoba tetap positif, saling menyemangati, namun kecemasan itu tak bisa disembunyikan.
Suatu hari, Arjun sakit. Demam tinggi dan batuk parah membuatnya tidak bisa bekerja. Aisha merawatnya dengan telaten, membeli obat-obatan sederhana, dan menyiapkan bubur. Namun, biaya pengobatan dan hilangnya penghasilan Arjun membuat situasi finansial mereka semakin terjepit.
"Maaf, Aisha," Arjun berbisik, suaranya serak. “Aku jadi merepotkanmu.”
"Jangan bicara begitu, Arjun," Aisha mengusap kening Arjun. “Kita kan bersama. Ini bagian dari perjuangan kita.”
Meskipun begitu, Aisha sendiri mulai merasakan beban berat di pundaknya. Ia sering menahan lapar agar Arjun bisa makan lebih banyak, dan ia sering berjalan kaki jauh untuk menghemat ongkos transportasi. Kerinduan pada keluarga dan kenyamanan hidup yang dulu ia miliki mulai menyeruak. Ia teringat masakan Ibunya, kamarnya yang nyaman di Bandung, dan bagaimana ia tidak pernah perlu khawatir soal uang.