Senja di Balik Batas

Sutan Azis
Chapter #13

Ujian Terberat

Badai yang dibawa oleh publikasi buku mereka terasa lebih dahsyat dari badai sebelumnya. Kecaman dan amarah keluarga mengikis ketahanan mental Arjun dan Aisha. Mereka tahu, ini adalah ujian terberat, yang mungkin akan menentukan nasib hubungan mereka.


Setelah telepon-telepon penuh amarah dari keluarga, Arjun dan Aisha merasa dunia berbalik melawan mereka. Aisha sangat terpukul mendengar kabar ayahnya pingsan. Rasa bersalah menghantuinya, seolah dialah penyebab penderitaan keluarganya.


"Arjun, aku tidak bisa begini terus," kata Aisha suatu malam, suaranya parau karena menangis. “Ayah aku sampai pingsan. Aku ... aku merasa aku sudah menjadi anak durhaka. Aku membuat mereka malu. Membuat mereka sakit.”


Arjun memeluknya erat. “Tidak, Aisha. Kamu tidak durhaka. Kamu hanya memperjuangkan kebahagiaanmu. Mereka yang tidak mau mengerti.”


"Tapi apakah kebahagiaan kita sebanding dengan penderitaan mereka, Arjun?" tanya Aisha, menatapnya dengan mata berlinang. “Apakah kita terlalu egois?”


Keraguan itu mulai merayapi hati mereka, seperti jamur yang tumbuh di tempat lembap. Pertanyaan-pertanyaan tentang pengorbanan, tentang kebahagiaan sejati, dan tentang benar atau salah mulai memenuhi pikiran mereka.


Telepon dari Bali pun tidak henti-hentinya. Ayah Arjun, yang biasanya lebih tenang, kini menelepon setiap hari, mendesaknya untuk pulang, meminta maaf kepada Kakek, dan menerima perjodohan.


"Arjun, Kakekmu sakit-sakitan setelah mendengar berita itu," kata Ayah Arjun dalam salah satu telepon. “Pulanglah, Nak. Ayah mohon. Jangan buat Ayah dan Ibumu semakin khawatir.”


"Yah, aku tidak bisa," jawab Arjun, hatinya sakit. “Aku mencintai Aisha.”


"Cinta itu buta, Nak! Kamu sudah menghancurkan hidupmu sendiri!" teriak Ayahnya. “Pikirkan masa depanmu! Masa depan anak-anakmu nanti! Apa kamu mau anak-anakmu tidak punya agama yang jelas?!”


Tekanan itu terasa sangat berat. Arjun mulai sulit tidur, nafsu makannya berkurang. Ia sering melamun, memikirkan apakah memang benar mereka sudah mengambil keputusan yang salah.


Suatu hari, Nenek Aisha datang ke Jakarta tanpa pemberitahuan. Ia langsung mendatangi indekos Aisha, ditemani oleh seorang bibinya. Aisha terkejut melihat mereka berdiri di depan pintu kamarnya. Wajah Neneknya terlihat marah, dengan sorot mata yang penuh kekecewaan.

Lihat selengkapnya