Pertemuan Kedua yang Tak Terduga
Beberapa hari berlalu. Kesibukan di toko buku kembali normal. Anya hampir melupakan pertemuan singkatnya dengan Arya, meskipun wajahnya sesekali terlintas dalam benaknya. Ia menyibukkan diri dengan menata buku baru, melayani pelanggan, dan sesekali membaca di sela-sela waktu luang.
Suatu siang yang terik, Anya sedang membantu seorang ibu mencari buku dongeng untuk anaknya. Tiba-tiba, bel pintu berdering dan seorang pria masuk. Anya mendongak dan terkejut mendapati Arya berdiri di ambang pintu, kali ini tanpa ransel dan tidak tampak kebingungan. Ia mengenakan kemeja kasual berwarna biru tua dan celana bahan, terlihat lebih santai namun tetap berkarisma.
"Selamat siang," sapa Arya dengan senyum ramah yang membuat jantung Anya berdebar sedikit lebih cepat.
"Siang," jawab Anya, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. "Ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Sebenarnya... saya hanya ingin melihat-lihat lagi. Toko buku Anda sangat nyaman," kata Arya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko.
Anya merasa pipinya sedikit menghangat. "Terima kasih. Silakan saja."
Arya berjalan menuju rak buku sastra, sementara Anya kembali membantu ibu dan anak tadi. Setelah selesai, Anya memberanikan diri menghampiri Arya.