Hubungan Anya dan Arya semakin erat. Mereka sering menghabiskan akhir pekan bersama, menjelajahi kafe-kafe tersembunyi di Jakarta, berburu buku di pasar loak, atau sekadar menikmati matahari terbenam dari sudut kota yang berbeda. Anya merasa seperti menemukan bagian yang hilang dari dirinya dalam diri Arya. Tawanya lebih sering terdengar, dan ia merasa lebih berani bermimpi. Arya pun terlihat lebih santai dan banyak tersenyum saat bersama Anya, seolah beban pekerjaannya sedikit terangkat.
Suatu sore, mereka sedang berada di sebuah pameran seni kontemporer. Arya menjelaskan beberapa instalasi dengan sudut pandang seorang arsitek, membuat Anya terkagum-kagum dengan pemikirannya. Saat mereka beristirahat di bangku, Anya memperhatikan beberapa orang yang menyapa Arya dengan hormat, memanggilnya 'Pak Arya' atau 'Arsitek Arya'. Arya hanya tersenyenyum dan menanggapi mereka dengan ramah, tanpa bermaksud pamer.
"Kamu sepertinya cukup dikenal di kalangan ini ya?" tanya Anya, sedikit merasa canggung.
Arya tertawa kecil. "Ah, tidak juga. Hanya beberapa kolega dan klien lama. Kebetulan mereka juga tertarik seni."
Namun, di hati Anya, pertanyaan itu kembali muncul: apakah dunia mereka terlalu berbeda? Arya adalah seorang arsitek muda yang sedang menanjak, dengan lingkaran pertemanan yang luas dan terkesan 'elite'. Sementara Anya, dengan bangga ia adalah seorang penjaga toko buku, yang hidupnya sederhana dan lingkup pergaulannya lebih kecil. Ia mencintai pekerjaannya, tetapi kadang ia merasa tidak sepadan dengan Arya.