Malam pembukaan proyek tiba. Jantung Anya berdebar kencang saat Arya menjemputnya. Arya tampak gagah dengan setelan jas gelapnya. Ia tersenyum menawan saat melihat Anya. "Kamu cantik sekali, Anya."
Pujian itu sedikit mengurangi kegugupan Anya. Ia mengenakan gaun navy sederhana miliknya, dipadukan dengan kalung liontin buku kesayangan. Rambutnya diikat rapi. Meski merasa sedikit kurang percaya diri dibandingkan Arya yang terlihat sangat sempurna, ia berusaha memancarkan ketenangan.
Setibanya mereka di lokasi acara, sebuah ballroom mewah yang dihias megah, Anya langsung merasa seperti masuk ke dunia yang berbeda. Kilauan lampu kristal, desis obrolan dalam berbagai bahasa, aroma parfum mahal, dan deretan wajah-wajah yang tampak familier dari majalah bisnis. Anya merasa seperti titik kecil di tengah lautan gemerlap.
Arya menggenggam tangannya erat, seolah tahu kegelisahan Anya. "Jangan khawatir. Aku ada di sini bersamamu."
Ia memperkenalkan Anya kepada beberapa rekan kerjanya. "Ini Anya, temanku." Arya memilih kata 'teman', mungkin untuk membuat Anya lebih nyaman. Rekan-rekan Arya menyambutnya dengan sopan, namun Anya bisa merasakan tatapan ingin tahu dan sedikit meneliti. Beberapa di antara mereka melirik gaun Anya yang sederhana, lalu kembali menatap Arya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Anya berusaha keras untuk tersenyum dan menanggapi obrolan ringan. Ia mencoba mengingat nama-nama dan jabatan yang disebut Arya, tapi kepalanya terasa penuh. Ia merasa seperti sedang berada di bawah mikroskop.