Setelah percakapan jujur dengan Arya, sebuah kedamaian dan keyakinan baru menyelimuti hati Anya. Ia menyadari bahwa cinta sejati tidak mengenal status sosial, latar belakang, atau kemewahan. Yang terpenting adalah kejujuran, kepercayaan, dan bagaimana seseorang merasa utuh saat bersama pasangannya. Arya telah membuktikan bahwa ia melihat Anya apa adanya, dan itu jauh lebih berarti daripada pujian atau pandangan orang lain.
Hubungan mereka semakin dalam. Anya tidak lagi merasa canggung saat Arya mengajaknya bertemu rekan-rekan bisnisnya, meskipun ia masih lebih suka suasana santai. Ia belajar banyak tentang dunia Arya yang sibuk, dan Arya pun semakin sering menghabiskan waktu di toko buku, terkadang hanya untuk menemaninya menata rak atau membaca dalam diam. Mereka menemukan keindahan dalam perbedaan mereka, saling melengkapi satu sama lain.
Suatu sore, Arya mengajak Anya ke sebuah bukit kecil di pinggir kota. Tempat itu sepi, jauh dari hiruk pikuk Jakarta, dan menawarkan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler. Langit berubah menjadi kanvas raksasa dengan sapuan warna oranye, merah muda, dan ungu.
Mereka duduk di atas rerumputan, menikmati keheningan dan keindahan alam. Anya menyandarkan kepalanya di bahu Arya, merasakan detak jantung pria itu yang tenang.
"Indah sekali ya, Arya," bisik Anya.
"Sama indahnya denganmu, Anya," jawab Arya lembut, mengecup puncak kepala Anya.