Setelah percakapan jujur itu, persiapan pernikahan Anya dan Arya terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan. Mereka mulai belajar untuk saling mendengarkan dan mencari titik temu. Arya mulai mengurangi daftar tamu 'penting' yang ia rasa tidak terlalu dekat, sementara Anya setuju untuk sedikit lebih fleksibel dengan pilihan tempat yang lebih besar, namun tetap akan dihias dengan sentuhan personal dan hangat yang ia impikan.
Mereka menyadari bahwa persiapan pernikahan adalah cerminan dari pernikahan itu sendiri: sebuah proses yang membutuhkan kompromi, pengertian, dan kerja sama. Mereka mulai melihat perbedaan mereka bukan sebagai penghalang, melainkan sebagai kesempatan untuk saling belajar dan memperkaya. Anya belajar tentang sisi praktis dan terorganisir dari Arya, sementara Arya belajar untuk lebih menghargai sentimen dan detail-detail kecil yang penting bagi Anya.
Suatu sore, Anya dan Arya sedang berada di sebuah toko dekorasi pernikahan. Anya sedang melihat-lihat rangkaian bunga kering dan lentera kertas, sementara Arya melihat katalog kursi dan meja.
"Bagaimana kalau untuk dekorasi, kita fokus pada unsur buku dan alam?" usul Anya. "Seperti ada tumpukan buku kecil di tengah meja, atau lentera kertas yang dihias dengan kutipan puisi?"
Mata Arya berbinar. "Itu ide bagus, Anya! Sangat kamu sekali. Aku bisa mendesain stand khusus untuk buku-buku itu, atau bahkan membuat semacam instalasi seni dari buku-buku lama."
Anya tersenyum senang. "Benarkah? Wah, itu akan luar biasa!"
Mereka mulai berdiskusi dengan antusias, memadukan ide-ide Anya yang penuh sentimen dengan keahlian desain Arya. Mereka memutuskan untuk membuat sebuah sudut khusus di area resepsi yang menyerupai perpustakaan mini, lengkap dengan sofa nyaman dan rak buku yang berisi koleksi pribadi mereka. Tamu bisa mengambil dan membaca buku di sana, atau bahkan bertukar buku. Ini adalah cara mereka menggabungkan dua dunia mereka menjadi satu.