Kehidupan pernikahan Anya dan Arya dimulai dengan manis. Hari-hari mereka kini dipenuhi dengan kebiasaan-kebiasaan baru, tawa, dan tentu saja, penyesuaian. Mereka tinggal di sebuah apartemen modern milik Arya, yang kini terasa lebih hangat dan hidup dengan sentuhan personal Anya. Sebuah rak buku besar yang dirancang khusus oleh Arya, kini menjadi pusat perhatian di ruang keluarga, dipenuhi koleksi buku mereka berdua.
Arya tetap sibuk dengan proyek-proyek arsitekturnya yang semakin besar. Seringkali ia harus pulang larut atau bahkan melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Namun, ia selalu menyempatkan diri untuk menelepon Anya, menanyakan kabar, atau sekadar bercerita tentang hari-harinya. Ia belajar untuk tidak lagi membawa pulang semua beban pekerjaan, melainkan mencari kenyamanan dalam kehadiran Anya.
Anya sendiri tetap bekerja di toko buku "Pecandu Aksara". Ia mencintai pekerjaannya, dan Arya sepenuhnya mendukungnya. Terkadang, Arya akan mampir ke toko saat jam makan siang, membawa bekal buatan Anya atau sekadar mengobrol singkat sebelum kembali ke kantor. Kedatangan Arya selalu disambut senyum bahagia dari Anya dan godaan ringan dari Pak Budi.
"Bagaimana arsitek kita hari ini?" goda Pak Budi suatu siang.
Arya tersenyum. "Aman terkendali, Pak. Berkat masakan Anya."