Senja di Hati Yang Terkunci

Raihan Langit
Chapter #1

Bab 1 : Ikrar

Keluargaku memang sederhana. Ayahku hanyalah tamatan Sekolah Dasar, begitu pula ibuku. Masa muda mereka dihabiskan untuk bertahan hidup, bukan untuk menghafal teori-teori sosial yang rumit. Ayahku adalah pelaku usaha sektor agraris-maritim alias petani-nelayan. Sebuah profesi ganda dengan kualifikasi ekstrem yang membuatnya harus menguasai hukum amfibi. Di darat, ia bertaruh pada tingkat kesuburan tanah rawa dan lumpur, sementara di air ia harus berkompromi dengan arus pasang surut Sungai Mentaya.

Sementara ibuku, wanita terhormat dengan tingkat disiplin militer tanpa seragam adalah menteri keuangan, direktur logistik, serta kepala bagian intelijen domestik—di rumah tentu saja. Ruang lingkup kekuasaannya mutlak tanpa batas, meliputi pengawasan arus kas harian yang ketat, manajemen rantai pasok beras di dapur agar tidak terjadi kekacauan massal di bagian pencernaan, hingga pelacakan keberadaan anak-anaknya melalui jaringan spionase antar tetangga. Jika ada rumus fisika yang bisa menghitung energi kesabaran seorang ibu, ibuku jelas berada di luar skala pengukuran alat mana pun.

Namun, kesederhanaan status ekonomi itu sama sekali tidak menyurutkan ambisi mereka untuk membuat anak-anaknya menjadi orang sukses, paling tidak dalam hal pendidikan nasional. Kedua orang tuaku adalah sepasang arsitek sosial yang sangat gigih. Dengan sekuat tenaga, mereka menjadikan kakakku yang cerdas sebagai seorang sarjana ekonomi. Ia kini sukses hidup dengan nyaman, menjadi pakar pengatur neraca keuangan yang sesungguhnya.

Lalu abangku, seorang manusia dengan anugerah otak jenius yang akan menyusul sebentar lagi untuk menyandang gelar sarjana elektronika. Di dalam kepalanya, rumus-rumus arus lemah, hukum Ohm, dan diagram sirkuit terpadu mengalir lancar bagai air selokan setelah diguyur hujan deras. Keberadaan dua kakakku ini adalah pembuktian ilmiah bahwa silsilah genetik orang tuaku sebenarnya berada pada jalur distribusi yang sangat unggul. Mereka berdua sukses menaikkan derajat keluarga di mata masyarakat kampung.

Prinsip orang tuaku pun sama terhadapku, sang anak bungsu yang digadang-gadang akan menyempurnakan trilogi sarjana di keluarga kami. Sebagai langkah awal untuk memuluskan rencana jangka panjang tersebut, aku disekolahkan di STM jurusan Gambar Bangunan. Sebuah pilihan sekolah menengah kejuruan yang sangat teknis, penuh kalkulasi, dan dipenuhi oleh aroma keringat ratusan lelaki muda yang selalu berpikir positif tentang masa depan.

Menurut cetak biru harapan ayah yang drafnya sudah dirancang sejak aku baru bisa merangkak, setelah lulus STM aku akan kuliah di bidang arsitektur. Target yang dipatok ayah sangatlah megah: aku akan menjadi arsitek pertama dari kampung pesisir Kalimantan yang merancang fondasi peradaban dunia.

Lihat selengkapnya