Senja di Hati Yang Terkunci

Raihan Langit
Chapter #2

Bab 2 : Veto Sang Raja

Ibu Kepala Desa sangat menyukaiku. Setiap bertemu dan melihatku, beliau selalu tersenyum dan berkata, aku adalah cerminan dari seorang pemuda tampan harapan bangsa. Aku tidak mengerti maksudnya. Aku hanya tahu, wanita terhormat yang mulai bertarung hebat melawan gejala penuaan itu sering mencuri pandang ke arahku. Aku pun tidak pernah tahu apakah itu sebuah pujian atau hanya sekadar bentuk kepeduliannya sebagai aparat desa terhadap warganya.

Ibuku sering bercerita, bahwa aura ketampananku berasal dari moyangku yang seorang juragan kapal dari tanah Arab. Ini tervalidasi melalui tubuhku yang tinggi dan bulu-bulu lebat yang tumbuh di kakiku. Saking lebatnya bulu itu, aku pernah melihat kawanan semut yang bernasib malang sedang tersesat di sana.

Namun, status ketampanan ini sama sekali tidak memiliki daya tawar hukum di dalam sidang istana malam itu. Suasana ruang tengah rumah panggung kayu kami terasa lebih pengap daripada biasanya, padahal angin malam dari arah sungai bertiup cukup kencang menyelinap melalui celah lantai dan dinding papan. Kami sedang mengadakan rapat paripurna keluarga.

Agenda tunggalnya adalah menentukan masa depanku. Meskipun seluruh anggota istana—mulai dari kakak hingga abangku—sudah ketok palu setuju untuk menguliahkanku agar menjadi seorang arsitek, aku yang merasa sangat mengenal diriku sendiri—atau sering juga disebut sebagai "tidak tahu diri"—justru memilih jalan pedang.

Aku, dengan sisa-sisa kejayaan anak STM, lebih memilih untuk menolak kuliah dan mencari pekerjaan.

Mendengar keinginanku yang melenceng dari cetak biru masa depan keluarga, ibuku—yang menjabat sebagai Menteri Keuangan domestik yang memiliki garis-garis besar tujuan ekonomi—langsung mengalami lonjakan tekanan darah secara signifikan.

Lihat selengkapnya