Jika ada sebuah kompetisi internasional untuk mengukur tingkat ketahanan mental seorang pengangguran, aku yakin posisiku saat ini sudah berada di atas podium. Menjadi pengangguran selama tiga ratus enam puluh lima hari di sebuah kampung pesisir Sungai Mentaya bukan hanya soal bagaimana cara bertahan hidup tanpa pemasukan, melainkan bagaimana cara mempertahankan harga diri di hadapan pengendali rantai makanan domestik yang dikomandoi oleh seorang jenderal tanpa seragam, sang Menteri Keuangan bernama Ibuku.
Bagi ekosistem rumah panggung kayu kami, statusku telah mengalami penurunan biologis yang memprihatinkan. Ibuku uring-uringan melihat pemuda tampan harapan bangsa itu telah berubah menjadi kelelawar. Sebuah transformasi perilaku yang sangat tidak direkomendasikan oleh menteri kesehatan mana pun di dunia. Ketika matahari mulai tergelincir di ufuk barat dan burung-burung mulai kembali ke sarangnya, itulah momen di mana energiku justru menyala.
Setiap senja menjelang aku menghilang, melesat menembus kegelapan malam pesisir, bergabung dengan peradaban terhormat yang berpusat di pos ronda. Di sana, bersama kawan senasib yang juga sedang berjuang menolak kenyataan, kami mendiskusikan teori-teori konspirasi, masa depan sepak bola dunia, hingga membuat perhitungan sederhana yang tidak masuk akal tentang bagaimana caranya menjadi kaya tanpa banyak usaha.
Petualangan malam itu selalu berakhir menjelang fajar. Aku pulang setelah subuh, lewat pintu belakang yang tidak dikunci ayahku. Pintu belakang itu adalah sebuah gerbang penyelamat, sebuah koridor rahasia yang sengaja disediakan oleh sekutu pendiamku sebagai bentuk toleransi tertinggi seorang ayah terhadap anak bungsu kesayangannya. Dengan langkah seringan kapas yang sudah dilatih selama berbulan-bulan, aku menyelinap masuk ke dalam kamar, kemudian bergelung nyaman terbungkus kain sarung kotak-kotak bekas peninggalan pesantren kilat.
Bagiku, ini hanyalah cara yang estetis untuk menikmati masa muda. Sebuah seni menunda masa depan dengan gaya yang penuh penghayatan. Namun bagi Ibuku, tidak ada istilah masa muda yang estetis, ini adalah murni pengangguran, yang mengancam kedaulatan pangan keluarga. Di dalam kamus besar ekonomi rumah tangga Ibu, setiap butir beras yang masuk ke dalam panci harus berbanding lurus dengan produktivitas anggotanya. Dan aku, sang kelelawar tampan, adalah satu-satunya lubang hitam yang terus menyedot logistik hingga berakibat semakin miringnya neraca dunia beras di dalam karung.