Dari raut wajah terkejut kepala sekolah saat aku melangkah masuk ke ruangannya, aku bisa menarik kesimpulan cepat dengan akurasi sembilan puluh sembilan persen: bukan beliau yang sebenarnya ingin aku menemuinya. Ruangan ber-AC yang beraroma buku paket tua dan minyak kayu putih itu mendadak hening. Pak kepala sekolah menatapku dari balik kacamata tebalnya seperti melihat sesosok hantu masa lalu yang mendadak bangkit dari kegelapan.
Ini pastilah hasil taktik gerilya sang Menteri Keuangan. Ibuku yang terhormat tampaknya telah melancarkan operasi rahasia tanpa persetujuan dewan keamanan rumah tangga. Beliau sudah tidak tahan lagi memelihara kelelawar berwajah tampan, yang senang bergelung nyaman di atas kasur terbungkus kain sarung hingga matahari meninggi. Pukulan genderang perang suku Aztec di kasur kapuk hanyalah pengalih perhatian dari sebuah kudeta takdir yang jauh lebih masif.
Aku tidak tahu, apakah nasib mulai berpihak kepada pemuda tampan penakluk dunia ini, ataukah semua hanyalah hasil dari jalur diplomasi tingkat tinggi yang dijalankan oleh Menteri Keuangan dengan memanfaatkan hubungan kekerabatan tingkat nasional.