"Kawan, jika ingin punya anak yang cerdas dan pintar, rajin-rajinlah membaca Surat Al-Insyirah, lalu tiupkan ke ubun-ubun anakmu ketika dia masih bayi." Begitulah ibuku sering berkata di berbagai kesempatan waktu pengajian rukun tetangga. Sebuah petuah spiritual yang disampaikan dengan intonasi penuh keyakinan setingkat profesor.
Dan petuah itu memang terbukti sakti mandraguna. Dua anak pertama ibuku benar-benar tumbuh menjadi manusia yang tidak membuat malu nama baik keluarga di depan forum warga. Mereka cerdas, pandai, dan memiliki kapasitas otak yang bekerja dengan efisiensi tinggi layaknya mesin turbin mutakhir. Kakak sulungku sukses menyandang gelar Sarjana Ekonomi, sementara abangku menyusul di jalur akademis yang tak kalah mentereng, menjadi seorang Sarjana di bidang Elektronika yang sanggup membaca diagram sirkuit serumit labirin tanpa pusing kepala.
Hanya si bungsu—yang sejak awal kemunculannya di dunia nyata sudah menunjukkan penampakan yang agak memprihatinkan dari sudut pandang prestasi akademis konvensional. Aku yakin, demi asas keadilan sosial bagi seluruh anak yang tertuang dalam hukum dasar rumah tangga kami, ibuku pasti melakukan ritual tiup ubun-ubun yang sama persis kepadaku saat aku masih bayi. Ibu tidak mungkin melakukan diskriminasi genetik terhadap anak bungsunya yang berwajah rupawan ini. Namun entah di mana letak kegagalan sistemnya, atau mungkin ada kesalahan fatal pada koordinat peniupan, aku tumbuh besar dengan kapasitas otak yang tanggung dan malu-malu.
Tentu saja, sebagai seorang mantan anak STM jurusan Gambar Bangunan yang terlatih mencari akar penyebab sebuah kegagalan struktur, aku punya teori ilmiah sendiri soal ini. Menurut hasil analisis logikaku, mungkin dulu, tepat ketika ibu selesai melafalkan ayat terakhir Surat Al-Insyirah dengan khusyuk dan mengumpulkan udara di rongga mulut untuk meniup ubun-ubunku, hujan khas pesisir Kalimantan mendadak turun dengan deras tanpa peringatan.
Akibat perubahan cuaca ekstrem yang mendadak itu, fokus ibu langsung terpecah antara masa depanku dan keselamatan aset rumah tangga. Beliau hanya sempat meniup ubun-ubunku sekilas saja. Sebuah tiupan kasual berkecepatan rendah yang kurang bertenaga, lalu buru-buru berlari ke halaman samping untuk menyelamatkan jemuran yang terancam basah. Angin badai yang berembus kencang di luar rumah itulah yang tampaknya harus bertanggung jawab penuh karena telah meniup pergi sebagian besar potensi kecerdasan sains dari tempurung kepalaku, menyisakan ruang kosong yang kemudian bertransformasi menjadi bakat membual yang tidak ada faedahnya dalam kurikulum sekolah.
Namun, alam semesta selalu punya cara rahasia dan tak terduga untuk mengoreksi kegagalan struktur di masa lalu itu. Pintu gerbang kemampuanku yang sebenarnya justru terbuka lebar lewat penderitaan malam yang panjang di tanah perantauan.
Waktu itu, demi menuruti cetak biru masa depan yang dirancang ayah, aku terdampar di sebuah kota yang jauh untuk bersekolah di STM jurusan Gambar Bangunan. Di sanalah penderitaanku bermula. Aku menderita insomnia akut tingkat tinggi, sebuah gangguan siklus tidur parah yang intensitasnya sanggup membuat khawatir para pemimpin bangsa.