Ketika kecil, aku ingin menjadi seorang pilot. Sedangkan ayah, ingin menjadikanku sebagai arsitek pertama di kampung. Sebuah cita-cita megah yang drafnya sudah digambar rapi di atas kertas harapan beliau.
Lalu, nasib secara sembrono justru membawaku terdampar menjadi seorang guru honorer Bahasa Inggris. Perjalanan takdir manusia memang tidak pernah bisa diduga oleh rumus matematika mana pun. Tuhan tidak akan mengabulkan sebuah khayalan, melainkan memberikan apa yang nyata.
Menjadi guru honorer tidak pernah ada sekalipun dalam garis-garis besar tujuan hidupku. Rencana karirku sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan kapur, papan tulis, atau tumpukan buku paket yang berdebu. Namun sekarang, semua kecelakaan nasib akibat konspirasi tingkat tinggi sang Menteri Keuangan itu harus kuhadapi dengan kepala tegak. Ibuku sukses meluncurkan taktik gerilya politiknya, agar anak bungsu pemberontak ini tidak lagi menjadi kelelawar.
Mengajar Bahasa Inggris di sekolah kampung, bermodal penderitaan insomnia akut di masa lalu serta sebuah kamus setebal batu bata, dan kegemaran mendengarkan lagu orang Barat melalui radio tua ternyata cukup menyenangkan. Di luar dugaan, aktivitas kapur ini tidak seberat yang kutakutkan sebelumnya.
Bahkan, dinamika di sekolah ini jauh lebih menantang dari sekadar menghafal kosakata asing. Ketika guru lain berhalangan hadir karena urusan sakit perut, aku harus selalu siap siaga turun gunung menggantikannya, mengajar mata pelajaran apa pun. Mulai dari Matematika yang dipenuhi rumus mematikan, sampai Olahraga yang mengharuskanku berlari-lari di lapangan berdebu mengitari sekumpulan bocah SMP yang hiperaktif.