Saat pertama kali kaki ini menapak di kantor sekolah, Bu Dewi sang Bendahara hanya memandangku sekilas. Sebuah tatapan kilat yang datar berdurasi kurang dari dua detik. Aku memaklumi pandangan kasual yang tidak bertenaga itu. Walaupun aku memiliki modal ketampanan tervalidasi tingkat tinggi dari Ibu Kepala Desa, status sosialku yang hanya seorang guru honorer miskin jelas tidak akan memiliki gaya gravitasi yang kuat untuk menarik perhatian seorang bendahara muda yang cantik, bergelar Sarjana Biologi, dan tentu saja masih bujangan ini.
Namun, seiring berjalannya waktu, arah angin takdir di koridor sekolah mulai bergeser dan tatapan sedingin es itu berubah perlahan-lahan. Perubahan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses erosi gengsi yang terstruktur. Mungkin semua itu dipicu karena dia sering melihat sendiri bagaimana kesigapanku bergerak cepat, gesit, dan serbabisa dalam menggantikan guru-guru lain yang berhalangan hadir karena berbagai urusan dunia.
Ditambah lagi, laporan yang masuk ke meja keuangannya pasti dipenuhi cerita tentang reaksi antusias dan kesenangan murid-muridku yang kadang berada di luar dugaan setiap kali aku masuk mengisi pelajaran. Gaya mengajar anak STM-ku yang santai namun penuh bualan terbukti mampu menaikkan indeks kebahagiaan ruang kelas secara drastis.
Sang bendahara absolut itu tampaknya sama sekali tidak mengira bahwa ketampananku ini ternyata diiringi dengan kapasitas otak yang menggetarkan. Ini adalah produk murni dari sisa-sisa tiupan tanggung Surat Al-Insyirah yang dilakukan ibuku ketika aku masih bayi. Meskipun sebagian potensi kecerdasanku telah lenyap tertiup angin badai jemuran, sisa kapasitas yang tersimpan di dalam tempurung kepalaku ternyata masih sangat mumpuni untuk melahap satu kamus batu bata dan mengendalikan situasi darurat di sekolah kampung ini.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan yang kulakukan secara berkala dan rahasia selama beberapa bulan terakhir, frekuensi senyum Bu Dewi kepadaku menunjukkan grafik peningkatan yang cukup signifikan. Distribusi keramahannya mulai bergeser, dan sudut senyum di bibirnya saat menyapaku di pagi hari telah mencapai kisaran tiga puluh derajat secara konstan.
Dalam pandangan mantan anak STM, peningkatan struktur kemiringan senyum sebesar itu jelas merupakan sebuah anomali positif yang sangat kuat dan tidak boleh diabaikan begitu saja oleh seorang pengamat yang cerdas. Kemungkinan besar sedang terjadi perubahan sisi emosional di dalam hatinya, sebuah perubahan wujud perasaan yang dipicu oleh gaya tarik-menarik energi asmara yang perlahan-lahan menjalar keluar dari batas aman toleransi seorang wanita lajang.
Sering kali dari balik meja kayu tua tempatnya mengurus birokrasi anggaran, tatapan mata sang ratu brankas seolah-olah mengirimkan sinyal gelombang seismik tersembunyi. Getaran-getaran tak kasatmata itu meluncur lurus, menembus ruang guru, dan sukses meluluhlantakkan seluruh kalkulasi logika anak STM -ku.
Sebagai seorang mantan anak STM jurusan menggambar bangunan, naluri sains, kepekaan spasial, dan kemampuan analisisku terhadap struktur tingkah laku manusia memang sangatlah tajam. Aku sudah terlatih untuk melihat garis yang melenceng satu milimeter pada kertas kalkir, jadi membaca perubahan sikap seorang wanita jelas bukan perkara yang mustahil. Aku bisa dengan sangat mudah membaca pertanda dari alam semesta bahwa Bu Dewi, sang penguasa absolut brankas sekolah yang ditakuti guru-guru lain itu, sebenarnya menaruh hati padaku. Pertanda alam yang kutangkap itu sangatlah valid, sevalid Hukum Newton.
Kemarin, saat aku melangkah mendekati mejanya untuk menerima amplop setipis kulit bawangku, Bu Dewi menyerahkannya tidak dengan wajah ketus seperti biasanya. Ia menyerahkan amplop itu sambil tersenyum manis ke arahku. Dan itu jelas bukan seperti senyum yang biasa diberikan kepada kepala sekolah atau penasehat komite. Itu adalah senyuman dengan sudut kemiringan presisi tiga puluh derajat—sebuah kode geometris tingkat tinggi yang berarti dia sedang memancarkan sinyal asmara terselubung di balik kedok administrasi sekolah.
Ditambah lagi anomali sensorik yang tidak bisa dibantah oleh argumen mana pun. Wangi parfum vanilanya yang manis dan memabukkan itu sengaja tertinggal di ruangan, mengambang di udara bebas bahkan setelah aku melangkah menjauh. Seolah-olah, dia sedang memancarkan sinyal sonar khusus pemikat jiwa untuk menjerat sang guru honorer Bahasa Inggris berwajah rupawan. Itu adalah sebuah jebakan taktis berbasis aroma yang dirancang dengan sangat matang untuk melumpuhkan daya nalar anak STM-ku.
Dengan semua akumulasi data grafik senyuman, perhitungan sudut kemiringan bibir, hingga analisis sonar aroma vanila yang sudah kukumpulkan selama berbulan-bulan, aku menarik satu kesimpulan akhir yang tidak bisa diganggu gugat oleh teori sains mana pun di muka bumi. Bu Dewi memang sedang naksir berat padaku!
Hari ini, aku menemui Bu Dewi di ruangan bendahara, bersiap menerima gajiku bulan ini yang tipisnya masih setipis kulit bawang.
Langkahku diatur sedemikian rupa—menggunakan prinsip geometris bangunan bertingkat dua puluh delapan agar terlihat gagah.
Pintu ruangan itu terbuka sedikit, mengembuskan aroma vanila yang langsung menyerang syaraf insomiaku.