Dengan dada berisi penuh—setangguh tiang pancang jembatan yang ditancapkan oleh pekerja dengan sepenuh hati—aku kembali ke kelas. Kamus batu bata di tanganku kini terasa seringan buku gambar. Duniaku terang benderang. Di kelas, senyumku melebar dengan sudut elevasi sekitar dua puluh sembilan derajat. Bersaing dengan sudut senyuman sang bendahara.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan tiga puluh menit.
Saat aku baru selesai menuliskan materi Simple Present Tense di papan tulis, pintu kelasku diketuk dengan ketukan yang menggetarkan jiwa. Pintu terbuka. Sosok pertama yang muncul adalah Bu Dewi. Namun, sudut kemiringan senyum tiga puluh lima derajat yang kuterima di ruang bendahara tadi sudah musnah tanpa bekas. Wajah cantiknya merengut masam, seolah dipaksa mengunyah buah belimbing muda.
Usut punya usut, Kepala Sekolah rupanya sedang sibuk rapat dinas dan menugaskan sang bendahara absolut untuk menjadi pemandu dadakan. Sebuah tugas receh yang jelas merendahkan martabatnya selaku penguasa brankas sekolah.
"Selamat pagi, Pak Panji. Maaf mengganggu jam pelajaran," ujar Bu Dewi. Suaranya kembali sedingin es, kontras dengan bisikan manisnya tadi pagi. "Saya ditugaskan Kepala Sekolah untuk mengantar murid baru."
Bu Dewi menggeser tubuhnya. Pada detik itulah, sistem pompa darah di jantungku mendadak mengalami kegagalan fungsi memompa darah secara manusiawi. Ini terasa sangat menakutkan.
Seorang siswi melangkah masuk. Tubuhnya tinggi, di atas rata-rata siswi di kampung ini. Penampilannya langsung membuat seisi kelas menahan napas berjamaah. Parasnya cantik, tipe kecantikan intimidatif yang membahayakan keselamatan warga. Sorot manik matanya tajam, dingin, dan memancarkan aura intimidasi tingkat tinggi—tipikal gadis kota yang manja dan tidak mau diremehkan.
"Perkenalkan diri kamu," perintah Bu Dewi singkat, masih dengan wajah merengut.
Saat mulai membuka mulut, tatapan Lala mengitari seisi kelas. Lalu, sepasang mata tajamnya mendadak bergeser dan mengunci mati ke arahku. Gawatnya, di sebelah Lala, Bu Dewi juga sedang melirikku dengan mata menyipit. Sang bendahara seolah sedang memasang sonar spionase untuk mendeteksi apakah guru honorer tampan di depannya ini akan goyah oleh pesona murid baru.
"Nama saya Lala, pindahan dari Sampit. Saya ke sini mengikuti Ayah yang baru ditugaskan menjadi Kapolsek di kecamatan ini."
Seisi kelas hening. Aku tahu murid-muridku sedang terpesona, sementara mental anak STM-ku justru sedang menghitung risiko hukum.