Senja di Hati Yang Terkunci

Raihan Langit
Chapter #9

Bab 9 : Radar Administratif Sang Bendahara

Riuh rendah urusan administratif di sekolah akhirnya surut, menyisakan dengung sepi yang membawa langkahku ke dermaga ini. Aku memilih sendiri. Menatap senja dari atas bilah-bilah kayu yang mulai lapuk. Di bawah kakiku, permukaan Sungai Mentaya perlahan menggelap, berubah menjadi cermin raksasa yang menangkap sisa cahaya langit kemerahan yang sedang sekarat. Angin pesisir bertiup tipis, membawa bau khas air sungai yang tenang dan aroma lumpur pantai, melarutkan sisa-sisa kepenatan siang tadi ke dalam riak yang meredup.

Di atas riak air yang tenang, bayangan itu kembali hadir. Seraut wajah tanpa nama. Seseorang yang hanya sempat kutatap sekali, namun berhasil meninggalkan rongga kosong di dada—sebuah ruang hampa yang sulit untuk diisi oleh siapa pun setelahnya.

Keheningan di sekelilingku seolah meluas, mengunci waktu agar aku bisa kembali memandangi bayang-bayang semu itu dalam diam.

Dua tahun telah berlalu, tetapi ingatan itu menolak pergi. Jantungku mungkin sesekali berdegup karena wangi vanila Bu Dewi, atau menyusut akibat intimidasi Lala. Namun, di labirin terdalam, pintu itu telah dikunci mati oleh satu orang yang bahkan tidak kuketahui namanya.

Aku menunggunya dengan cara yang paling tidak masuk akal; menanti seorang asing yang menghilang ke dalam pusaran takdir, membawa pergi seluruh kunci hatiku. Di tempat sesunyi ini, ego anak STM-ku luruh, menyisakan kepasrahan seorang lelaki muda yang tak berdaya di hadapan kenangan.

Memori hari itu terekam dengan terlalu kuat. Saat itu, aku baru saja menelan kekalahan pahit dalam pertandingan sepak bola antar-kampung. Tubuhku remuk dan kepalaku jenuh. Keadaan diperparah oleh Ibam, sahabatku sendiri, yang dengan kurang ajar mencuri panggung demi menarik perhatian gadis-gadis di tepi lapangan. Aku ditinggalkan begitu saja, terpuruk sendirian di sudut lapangan yang berdebu.

Namun, semesta rupanya punya cara sendiri untuk membayar kekalahan itu.

Sorenya, dalam kondisi babak belur di teras rumah, mata kami bertemu, tanpa disengaja.

Seorang gadis asing berdiri di sana, seolah dikirim langsung oleh langit senja untuk meredam gemuruh di dadaku. Di dalam manik matanya, aku berani bersumpah ada sekerlip cahaya yang mampu menerangi sudut hatiku yang paling gelap. Waktu seakan berhenti saat itu, hanya ada detak jantungku yang melambat, terhipnotis oleh perasaan asing yang ia bawa.

Pemilik mata berbinar itu pergi tanpa sempat menitipkan nama. Namun, getaran yang ia tinggalkan di dadaku belum juga usai. Ia terus bergaung di antara deru angin pesisir dan lambaian daun-daun nipah yang mengiringi kesendirianku. Suara gesekan daun nipah malam ini terdengar seperti bisikan pelan, mempertegas nada sepi yang sejak tadi kupeluk erat.

Aku menghela napas, menikmati udara yang mulai dingin menyentuh kulit, lalu memutuskan beranjak pulang sebelum malam benar-benar menelan dermaga. Senja kembali mengantarku dengan rindu yang sama.

Di sudut lain dermaga yang temaram, sesosok tubuh berdiri diam di bawah bayang-bayang pohon ketapang. Sepasang mata dingin sedang menghujam ke arahku tanpa berkedip.

Lihat selengkapnya