Senja di Hati Yang Terkunci

Raihan Langit
Chapter #10

Bab 10 : Demi Hukum Fisika dan Mekanika

Malam Minggu pun tiba. Atmosfer kampung di pinggiran Kalimantan ini terasa lebih sunyi, hanya ditemani suara jangkrik yang saling bersahutan. Setelah mandi dua kali, aku berdiri di depan cermin yang buram.

"Tenanglah, Pak Panji. Kamu adalah pemuda tampan bersertifikat Kepala Desa. Struktur mentalmu tidak boleh runtuh hanya karena tatapan bendahara," bisikku menyemangati diri sendiri, sambil merapikan kerah kemeja kotak-kotak andalanku. Aku tak lupa menyelipkan kamus batu bata, jimat andalanku sejak sekolah ke dalam tas selempang bututku, sebagai tameng formalitas kalau-kalau pembicaraan malam ini benar-benar hanya membedah Karya Ilmiah Remaja.

Tepat pukul tujuh malam, aku sudah berdiri di depan rumah kayu bernuansa minimalis milik Bu Dewi. Ketukan kuayun tiga kali, jumlah yang konon sama persis dengan jumlah ketukan pintu oleh kuntilanak.

Pintu terbuka.

Sosok Bu Dewi muncul. Malam ini seragam dinas maupun gaun marunnya menghilang, digantikan daster batik modern berwarna hitam dengan rambut yang digelung asal-asalan ke atas. Penampilan kasual itu justru membuat pesona perempuan matang ini naik berlipat-lipat, sukses membuat sistem pemompa darahku kembali gagal berfungsi. Aromanya bukan lagi vanila kantoran, melainkan wangi sabun mandi yang segar.

Namun, keindahan visual itu langsung berbenturan dengan kenyataan pahit begitu mataku membaca ekspresi wajahnya. Tidak ada senyuman dengan sudut kemiringan tiga puluh lima derajat seperti kemarin. Bibirnya tertekuk lurus, seperti garis horizon di lautan yang tenang.

"Eh, Pak Panji. Tepat waktu ya, silakan masuk," ujar Bu Dewi datar. Nada suaranya turun setengah oktaf, sebuah indikasi bahwa suasana hatinya belum mengalami pemulihan.

Aku melangkah masuk dengan sangat hati-hati. Rasanya setiap lantai kayu ruang tamunya adalah barisan ranjau darat yang siap meledak.

Aku duduk di kursi rotan, meletakkan tas di atas meja dengan tingkat kelurusan yang kuatur sedemikian rupa. Sesimetris mungkin dengan tepian meja. Demi estetika pertahanan diri, alias bertingkah kikuk.

Bu Dewi kembali dari dapur membawa dua gelas teh manis hangat. Gelas-gelas itu mendarat di meja dengan dentingan yang sedikit lebih keras daripada biasanya—sebuah pertanda alam yang sangat buruk bagi keselamatanku. Ia kemudian duduk di kursi tunggal yang berhadapan langsung denganku, melipat tangan di dada, lalu menatapku lurus-lurus dengan mata menyipit.

"Tehnya diminum dulu, Pak Panji," ucapnya pelan, namun dengan aura komandan tentara yang sedang menginterogasi tawanan perang. "Sembari Bapak minum, saya mau tanyakan satu hal yang mengganjal di pikiran saya sejak siang tadi."

Lihat selengkapnya