Senja di Hati Yang Terkunci

Raihan Langit
Chapter #11

Bab 11 : Aroma Rindu di Sungai Mentaya

Malam mengendap perlahan di sepanjang pesisir, meninggalkan keheningan yang pekat di atas jalur Sungai Mentaya. Di ujung bilah-bilah ulin yang mulai retak dimakan usia, aku membiarkan kedua kakiku menjuntai ke arah air yang gelap. Suara kecipak air menghantam tiang dermaga terdengar seperti bisikan samar, memanggil kembali sepotong ingatan yang keras kepala.

Ketika bisingnya ruang kelas dan sandiwara harian di sekolah surut, di sinilah aku berakhir. Menjadi diri sendiri yang utuh tanpa bualan, tanpa topeng pemuda tampan yang selalu tersenyum.

Yang tertinggal di dadaku hanyalah sepi yang merundung, sedalam aliran sungai di bawah kakiku. Dalam pelukan malam yang dingin, kesombongan yang siang tadi kupakai untuk memancing tawa murid-murid menguap begitu saja, runtuh menjadi serpihan debu yang tak berarti.

Aku tidak lagi harus berpura-pura menjadi guru honorer yang tangguh, yang seolah-olah memiliki dunia di dalam genggamannya. Di atas kayu ulin yang mulai rapuh ini, aku hanyalah seonggok tubuh lelah yang kalah oleh perasaannya sendiri.

Pandanganku terpaku pada permukaan air yang kelam, tempat ingatan tentang sepasang mata berbinar itu kembali mengapung. Pandangan singkat di teras rumah panggung dua tahun lalu tidak pernah benar-benar selesai.

Gadis asing itu datang seperti embusan angin sore, menatapku sekali, lalu melangkah pergi menembus kabut takdir tanpa pernah meninggalkan sebaris nama. Tatapan yang teramat singkat itu telah terlanjur menciptakan ruang hampa yang egois di hatiku—sebuah ruang yang dengan kejam menolak kehadiran orang lain.

Mata berbintang itu telah mencuri seluruh jiwaku, kini menjelma menjadi sebuah kunci indah tak kasat mata. Ia mengunci rapat bagian terdalam di dadaku, menyisakan ruang gelap yang menolak dimasuki oleh cahaya mana pun.

Malam ini, di bawah langit yang bersih, aku seolah kembali mendengar petikan dawai sunyi yang ia tinggalkan di hulu perasaanku. Gaungnya tipis, berkelindan di antara desau angin malam dan gesekan pelepah nipah yang tumbuh liar di tepian pantai.

Ada irama yang menyakitkan dari ketiadaannya. Setiap kali riak air sungai memantulkan cahaya bulan yang redup, wajahnya seolah terlukis di sana, samar namun sekaligus teramat jelas. Sinar matanya yang dahulu hanya kulihat dalam hitungan detik, kini menjadi garis batas yang memisahkan antara kewarasan dan kegilaanku.

Menunggu sosok yang sama sekali tidak kukenal adalah ketidakwarasan yang kupelihara dengan sadar. Seseorang yang memiliki binar bintang di manik matanya, yang kini entah berada di mana.

Kadang aku bertanya-tanya pada pekatnya malam, apakah dia juga sedang menatap langit yang sama? Ataukah dia telah melupakan pemuda yang menatapnya tanpa kedip di teras rumah panggung waktu itu?

Sifat konyolku yang biasanya meledak-ledak di siang hari, kini berubah menjadi rasa sepi. Siapakah aku ini? Hanya seorang guru honorer dengan upah yang habis sebelum tengah bulan, tetapi berani-beraninya menjaminkan seluruh sisa hidup hanya untuk sebuah bayangan yang tidak pasti.

Aku menarik napas panjang, membiarkan udara malam yang menggigit masuk memenuhi rongga dada, lalu merapatkan kancing kemeja teratasku.

Lihat selengkapnya