Pagi itu, koridor sekolah memiliki tingkat kelembapan yang tidak ideal untuk konsentrasi. Aku duduk di balik meja piket, mencoba memfokuskan sisa-sisa sel otakku pada buku besar absensi kelas dua yang kolom-kolomnya mulai memusingkan mata.
Mengisi presensi kehadiran murid-murid kampung ini rasanya jauh lebih rumit ketimbang menghitung kalkulasi gaya momen pada perencanaan jembatan bentang panjang.
SREKK.
Sebuah gesekan material yang asing tiba-tiba menginterupsi pendengaranku. Sebelum aku sempat mendongak, sebuah kotak kaleng kecil bergambar logo band indie era 2000-an mendarat tepat di atas lembar absensi yang sedang kukerjakan. Posisinya agak miring, merusak estetika simetris yang selalu kujaga demi ketenangan jiwa.
Aku mendongak dengan cepat. Sistem pertahanan sarafku langsung berada di tingkat siaga satu saat melihat siapa oknum pelakunya.
Lala!
Pagi ini, anak Kapolsek itu tampil dengan rambut dikuncir kuda yang sangat rapi. Ekspresi wajahnya masih sama seperti kemarin: datar, dingin, dan memiliki daya intimidasi yang setara dengan beton cor yang baru turun dari truk molen.
Namun, sepasang matanya kali ini tidak lagi menatapku seolah-olah dia sedang menginterogasi tersangka di kantor polisi.
"Apa lagi ini, Lala?" tanyaku penuh selidik, menatap kotak kaleng itu dengan tingkat kewaspadaan tinggi, seolah benda itu adalah paket bom waktu yang siap meledak.
Lala tidak langsung menjawab. Ia sengaja membuang muka ke arah lapangan sekolah yang berdebu, menolak menatap mataku langsung. Gestur yang sangat tidak mencerminkan sikap tegas seorang anak kepala polisi.
"Itu permen jahe dari Sampit," jawab Lala pendek, suaranya sedingin es balok pelabuhan. "Kemarin malam saya kalah taruhan main PS 1 dengan sepupu di rumah. Hukuman taruhannya adalah membelikan tiga kaleng permen jahe ini di toko kelontong depan pelabuhan karena sepupu saya itu sangat suka jahe."
Ia berhenti sejenak, merapikan letak tas sekolahnya yang miring dengan gerakan kaku yang dibuat-buat.
"Masalahnya, dia mendadak sakit gigi tadi pagi dan dilarang makan yang manis-manis oleh ibunya. Sementara saya sendiri benci setengah mati dengan rasa jahe, tapi saya sangat menyukai gambar di kaleng ini. Daripada permennya dibuang ke tempat sampah, lebih baik saya berikan untuk Bapak."
Aku tertegun di tempat. Penaku menggantung di udara. Otak STM-ku mengalami korsleting masif untuk memproses runtutan logika yang baru saja dipaparkan remaja di depanku ini.