Senja di Hati Yang Terkunci

Raihan Langit
Chapter #13

Bab 13 : Saya Lebih Mengenalnya

Jam istirahat pertama baru saja dimulai ketika bel sekolah berbunyi nyaring, membubarkan murid-murid dari ruang kelas seperti kawanan burung yang lepas dari sangkar. Dalam hitungan detik, koridor sekolah yang semula lengang berubah menjadi lautan seragam putih biru yang saling bersilang. Sebagian menyerbu kantin, sebagian lagi memenuhi halaman sekolah hanya untuk memperdebatkan hasil pertandingan sepak bola semalam dengan kesungguhan yang seolah-olah menentukan nasib bangsa.

Aku sedang berada di ruang guru, berjuang mempertahankan kewarasan di hadapan setumpuk lembar latihan Bahasa Inggris yang berhasil membuat mataku berkunang-kunang. Menjadi guru honorer ternyata tidak hanya menguji kemampuan mengajar, tetapi juga daya tahan mental menghadapi tulisan tangan murid yang kadang lebih sulit diterjemahkan daripada hieroglif Mesir kuno.

Aku menyandarkan punggungku sebentar ke sandaran kursi kayu yang keras, memijat pangkal hidungku yang terasa pegal. Di depan rekan-rekan sesama guru atau saat melangkah di koridor tadi, aku tentu saja sudah mengaktifkan mode terbaikku: tersenyum penuh percaya diri, melempar satu dua lelucon narsis tentang betapa beruntungnya sekolah ini memiliki guru Bahasa Inggris setampan diriku, lalu membual tentang rencana-rencana hebat yang sebenarnya belum tahu kapan akan terwujud.

 Topeng itu begitu melekat pada diriku, sebuah tameng yang kubuat dengan rapi agar dunia luar tidak perlu tahu betapa lelah dan sunyinya jiwaku di balik status guru honorer berpenghasilan pas-pasan. Aku kembali menatap lembar jawaban di depanku, mendesah pelan, dan membiarkan benakku mengembara ke seberang ingatan yang selalu berusaha kututupi.

Di saat yang sama, tanpa sepengetahuanku, sebuah percakapan singkat sedang berlangsung di ruang bendahara. Percakapan yang kelak membuat Bu Dewi menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam mengenalku jauh lebih baik daripada yang selama ini ia bayangkan.

Ruang bendahara sedang lengang. Kebisingan dari koridor sekolah hanya terdengar sayup-sayup dari ruangan ini. Tumpukan berkas memenuhi meja kerja Bu Dewi, tersusun rapi berdasarkan kode anggaran dan laporan bulanan yang seolah tak pernah ada habisnya.

Sesekali ia menandatangani dokumen dengan gerakan mekanis yang terlatih, lalu memindahkannya ke sisi kanan meja. Karakter Bu Dewi sebagai bendahara absolut tercermin dari bagaimana ia menata ruangannya; semua harus presisi, tegas, dan tidak menerima kompromi.

Baginya, angka-angka adalah kebenaran mutlak yang tidak boleh diganggu gugat oleh perasaan apa pun.

Pintu ruangan diketuk pelan. Suaranya ketukan yang ragu-ragu, namun cukup jelas untuk memecah keheningan ruangan.

"Masuk."

Lala muncul dari balik pintu sambil membawa map berwarna biru tua. Langkah kakinya terdengar pelan di atas lantai. Sebagai siswi baru yang pindah dari kota, Lala selalu membawa pembawaan yang sedikit kaku, tegak, dan menyimpan jarak yang tegas dengan lingkungan sekitarnya.

"Bu, ini daftar penerima bantuan dari kelas sebelas. Pak Hardi meminta saya mengantarkannya."

"Letakkan saja di sini."

Lala melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka, dan meletakkan map itu dengan hati-hati di atas permukaan meja kerja yang mengilat.

Lihat selengkapnya