"Maksudmu?" Pulpen di tangan Bu Dewi kembali terhenti. Matanya perlahan menyipit, menatap Lala dengan ketajaman yang biasa ia gunakan untuk memeriksa selisih angka dua puluh ribu di laporan keuangan.
Ada getaran aneh yang mendadak menyengat ego Bu Dewi sebagai orang yang merasa paling paham tentang Panji di sekolah ini.
Lala langsung menggigit lidahnya sendiri. Sesaat setelah kata-kata itu lolos dari bibirnya, ia segera menyesali ucapannya yang terlalu impulsif. Sifat keras kepalanya baru saja membongkar benteng pertahanan yang selama ini ia bangun rapat-rapat.
"Tidak ada."
"Katakan saja." Desak Bu Dewi.
Nada suaranya tidak lagi sekadar meminta, melainkan sebuah perintah absolut yang tidak menerima bantahan.
Lala terdiam beberapa detik. Ruangan itu terasa semakin sempit. Ia bisa mendengar detak jarum jam dinding yang berdetak konstan, berpacu dengan detak jantungnya sendiri. Ia mencoba menahan rasa gugup yang mulai merambat ke telapak tangannya sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang pelan, namun bergaung berat di dalam ruangan,
"Beliau selalu sendirian."
Bu Dewi menatapnya lebih dalam, mencari tahu ke mana arah pembicaraan murid di depannya ini.
"Sendirian?"
"Iya."
"Bagaimana kamu tahu?" Kejar Bu Dewi lagi, suaranya kini mulai kehilangan ketenangan mekanisnya.