Senja kembali mengantar Sungai Mentaya menuju malamnya: perlahan hitam, pekat, dan berkuasa.
Di bawah kakiku, riak airnya berbisik pelan, memantulkan sekerlip cahaya bintang dari merahnya langit yang memudar.
Aku duduk di tepi bilah kayu, membiarkan kakiku menggantung di atas permukaan air. Angin pesisir bertiup dingin, menggoyangkan daun-daun nipah yang berbisik di kegelapan.
Di tempat ini, aku kembali termenung. Menjemput ingatan dua tahun lalu yang menolak dihapus oleh waktu.
Di atas permukaan air yang gelap, seraut wajah gadis asing tanpa nama itu kembali membayang. Seseorang yang hanya sekali bertatap mata, namun dengan kejam memetik dawai di hatiku.
Dan malam ini, di tengah deru angin malam, dawai itu masih bergetar indah, memancarkan rasa rindu yang asing dan tak pernah menemukan pelabuhannya.
"Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, aku hanya sedang menjaga sebuah ingatan," gumamku lirih pada kegelapan sungai.
Aku menghela napas, mengira bahwa malam ini aku murni sendirian bersama ingatanku.
***
Malam semakin merayap di atas Sungai Mentaya, membawa angin pesisir yang menusuk tulang. Di ujung dermaga kayu yang mulai lapuk, siluet tubuhku duduk diam membelakangi daratan, sepenuhnya larut dalam lamunan mencari seraut wajah asing pembawa dawai hati dua tahun lalu.
Aku sama sekali tidak menyadari bahwa malam ini, dermaga sederhana itu telah berubah menjadi lokasi operasi intelijen tingkat tinggi.
Sekitar tiga puluh meter dari tempatku berdiri, di balik pohon ketapang yang rimbun, Lala masih berdiri diam sambil menuntun sepeda jengkinya.
Pandangannya tidak pernah lepas dari sosok guru muda yang sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Suara riak air sungai yang membentur tiang kayu ulin tua seolah menjadi satu-satunya pelindung keheningannya.
SREKK...
Suara gesekan dedaunan kering terdengar pelan dari arah belakang, memutus kesunyian malam.
Insting Lala langsung bekerja. Ia menoleh cepat.
Sesosok perempuan melangkah perlahan melewati jalan setapak yang lembap.
Bu Dewi.
Malam itu ia tidak mengenakan seragam khaki seperti biasanya. Ia memakai daster batik bermotif abstrak berwarna hitam putih yang dilapisi jaket rajut tipis.
Rambutnya digelung sederhana, sementara aroma vanila yang sangat dikenali Lala lebih dulu tiba menembus pekatnya udara malam sebelum langkah kakinya berhenti.
Mata kedua perempuan itu akhirnya bertemu di bawah temaram cahaya bulan yang merangkak naik.
Beberapa detik berlalu tanpa suara, menciptakan jeda yang teramat dingin.