“Apakah kau mendengar gemuruh ombak yang menghantam batu karang di tepian pantai?
Dulu, suaranya bagai simfoni yang menyanyikan kebahagiaan seiring tumbuhnya cinta di antara kita.
Tapi sekarang, dengarlah gemuruh itu—tak lagi bernada, seolah kehilangan makna, mengisahkan luka dan perpisahan yang tak terelakkan.”
---
Langit Parangtritis merona keemasan, tapi Kikan tidak melihatnya.
Ia berdiri terlalu dekat dengan bibir ombak—air laut sudah menyentuh ujung sandalnya, basah, dingin, dan terus merayap.
Satu langkah lagi, dan tubuhnya akan ikut terseret gelombang.
Angin laut mengibaskan rambut panjangnya. Tatapannya kosong, seolah tak lagi peduli apakah ombak itu akan membasahi kakinya… atau menelan seluruh hidupnya.
Setiap sore ia datang ke tempat ini. Tapi hari ini berbeda. Hari ini, ia tidak hanya ingin mengenang. Ia ingin berhenti merasakan.
Gio. Nama itu pernah mengisi relung hatinya. Lelaki yang berjanji setia, lalu pergi, meninggalkan jejak pengkhianatan yang mengoyak lebih dalam daripada sekadar perpisahan.
Tak jauh dari sana, seorang pemuda duduk di bangku kayu dekat warung kelapa muda. Ia baru sekali ini menjejakkan kaki di pantai Parangtritis, menikmati hembusan angin sore yang menenangkan.
Namanya Damar.
Namun ketenangannya terusik. Seorang gadis berdiri terlalu dekat dengan bibir ombak. Air sudah menyentuh kakinya, tapi ia tidak bergerak.