Pagi datang membawa udara segar, tetapi tidak serta-merta menghilangkan kelelahan dalam benaknya. Kikan menatap bayangannya di cermin, mencoba menemukan pantulan seseorang yang sudah siap menghadapi hari baru.
“Ayo dong, Kikan! Udah jam berapa nih? Nanti kita telat ke kampus, lho! Kebiasaan banget, ah!” Dita mendesak sambil melirik jam di pergelangan tangannya. Wajahnya menunjukkan sedikit kekesalan.
“Iya, iya. Ini udah selesai, kok!” sahut Kikan dari dalam kamar, suaranya terdengar tergesa.
Tak lama, pintu kamar terbuka. Kikan muncul dengan senyum tipis di wajahnya. “Bawel banget, sih!” lanjutnya, setengah bercanda, meski sorot matanya tampak kosong.
Dita, sahabatnya sejak SMP, mendengus. Mereka memang dekat sekali, meski Kikan juga memiliki dua sahabat lain, Dona dan Ica, yang kuliah di tempat berbeda. Walaupun begitu, mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul, sekadar nongkrong di kafe, jalan-jalan di mal, atau menonton film bersama di bioskop.
“Bawel, bawel! Kamu tuh kebiasaan ngaret, nggak berubah-berubah!” cibir Dita, masih kesal, tapi senyum mulai merekah di wajahnya.
“Iya, maaf, maaf! Udah, ayo berangkat!” ajak Kikan, meski nada suaranya terdengar datar.
Namun, langkahnya terhenti saat Dita tiba-tiba menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Sebentar, sebentar! Ada yang beda dari kamu hari ini," gumam Dita dengan ekspresi serius.
"Apanya yang beda?” Kikan mengerutkan kening, merasa ada yang aneh.
“Coba muter dulu!”
“Tadi ngajak buru-buru, sekarang malah merhatiin aku begini. Pake acara muter segala lagi!" Kikan menghela napas, sedikit kesal tapi tetap tersenyum, meski wajahnya terlihat cemas.
Dita memperhatikannya lebih seksama sebelum akhirnya tersenyum lebar. “Hehe, nggak ada yang aneh, kok! Aku cuma senang lihat kamu hari ini. Kamu kelihatan cantik banget, nggak kayak biasanya yang seadanya gitu.”
Kikan mendengus pelan. “Apaan sih, Dit? Gitu doang.”
Dita tertawa kecil. “Serius, lho. Senang banget aku lihat kamu kayak gini, rasanya kamu balik lagi seperti dulu. Sebelum si... brengsek itu nyakitin kamu.”
Kikan terdiam sejenak. Senyumnya memudar, tapi ia segera mengalihkan pandangan. “Udah, deh, Dit. Jangan bahas yang itu lagi.”
“Hehe! Oke, oke, maaf. Yaudah, ayo kita berangkat!” Dita mencoba mencairkan suasana.
“Kamu duluan aja ke mobil, aku pamitan dulu sama Mamah,” ujar Kikan pelan.
“Oke, aku tunggu di mobil, ya.”
Dita pun melangkah pergi, meninggalkan Kikan yang masih berdiri di tempatnya.
---
*Bayang Masa Lalu
Gio. Nama itu kembali bergema di benak Kikan.
Sakitnya masih ada, meski perlahan mulai memudar. Ia telah berjuang mempertahankan hubungan mereka, menelan hinaan dari orang tua Gio demi seseorang yang katanya mencintainya.
“Sekeras apa pun sebuah batu, jika terus-menerus terkena tetesan air, lambat laun batu itu akan hancur.”
Kata-kata Gio masih terngiang.
Namun, pada akhirnya, setelah semua usaha dan pengorbanannya, Gio malah pergi tanpa sepatah kata pun.
Kini, setelah melewati begitu banyak malam dengan air mata, Kikan mulai belajar. Ia tak bisa terus menyalahkan keadaan, tak bisa terus bertanya “kenapa?” atau “seharusnya bagaimana?”
Mungkin, ini cara Tuhan menunjukkan bahwa ia terlalu mudah mempercayakan hatinya pada orang yang salah.
--
*Pagi yang Lebih Ringan