Senja Mengukir Cerita

Bias Divhanka
Chapter #3

Chapter 3 - Takdir di Ujung Jalan

Suara sirene ambulans masih terngiang di telinga Kikan. Semua terjadi begitu cepat. Kerumunan orang, tangan-tangan yang membantu mengangkat korban, dan wajah Dita yang pucat seakan menjadi bayangan yang tak terputus.

Kini, mereka duduk di ruang tunggu rumah sakit dengan perasaan campur aduk. Bau obat-obatan memenuhi udara, sementara detik jam di dinding terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Kikan menunduk, jemarinya saling menggenggam erat. Ia belum berani menatap pintu ruang penanganan darurat.

Tak lama kemudian, langkah tergesa terdengar mendekat.

“Kalian baik-baik aja? Maaf, kita baru bisa datang. Ada mata kuliah yang nggak bisa ditinggalin,” ucap Dona begitu sampai di ruang tunggu rumah sakit.

Ica langsung menghampiri Kikan dan memeluknya erat. “Kamu nggak papa, kan?” tanyanya penuh cemas.

Kikan mengangguk pelan, tapi wajahnya masih terlihat pucat. Sementara itu, Dita duduk di sampingnya dengan mata sembab, sesekali menyeka air mata yang belum juga berhenti mengalir.

“Kenapa bisa sampai nabrak gitu?” tanya Dona penasaran, matanya bergantian menatap Kikan dan Dita.

“Dita nyetir sambil teleponan,” jawab Kikan lemah. “Aku udah bilang tunggu sampai kampus dulu, tapi dia tetap aja maksa.”

Dita menunduk, menggigit bibirnya, merasa bersalah.

Dona menarik napas panjang. “Ya udah, yang penting kalian nggak kenapa-kenapa. Ini musibah, nggak ada yang mau, kan?” katanya, berusaha menenangkan.

“Tapi aku takut…” suara Dita bergetar. “Gimana kalau keluarganya marah? Kalau mereka nuntut aku gimana?” Air matanya kembali jatuh, membuat Dona langsung merangkulnya.

“Dita, dengar.” Dona menatapnya lembut. “Kita hadapi ini sama-sama, oke? Jangan keburu panik. Fokus aja dulu ke kondisi korbannya.”

Ica mengangguk setuju. “Iya, Dit. Yang penting sekarang kita pastiin dia itu baik-baik aja.”

Setelah berpikir sejenak, Dona menoleh ke Ica. “Ca, coba tanya ke suster gimana kondisi ibu itu sekarang. Sekalian tanya soal biaya, kalau bisa bayarin dulu, ya?”

“Siap,” jawab Ica, lalu beranjak ke meja resepsionis.

Mereka menunggu dalam diam. Dita masih sesekali terisak, sementara Kikan menggenggam tangannya erat, mencoba menenangkannya.

Beberapa menit kemudian, Ica kembali dengan wajah lebih santai. “Tadi aku tanya dokter. Kata beliau, ibu itu nggak luka parah, cuma ada pergeseran di dengkul. Jadi mungkin bakal susah jalan untuk sementara, tapi nggak ada yang serius.”

Dona langsung menghembuskan napas lega. “Syukur banget…”

Dita pun mulai terlihat sedikit lebih tenang. “Jadi… mereka nggak bakal nuntut aku, kan?” tanyanya hati-hati.

“Kita tunjukin aja kalau kita bertanggung jawab. Kalau mereka lihat kita niat baik, insyaallah nggak bakal sampai kayak gitu,” kata Dona meyakinkan.

Lihat selengkapnya