Asisten rumah tangga itu memandu keempatnya menuju ruang tamu rumah. Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Tante Rani muncul dengan senyum hangat di wajahnya.
“Eh, kalian! Tante kira siapa,” ujarnya riang.
Mereka segera bangkit dari duduk. “Maaf ya, Tante, baru sempat ke sini,” kata Dita dengan sedikit canggung.
Tante Rani menggeleng pelan, senyum lembut masih menghiasi wajahnya. “Ah, nggak apa-apa, yang penting sekarang kalian di sini. Ayo duduk lagi, santai aja.”
Mereka kembali duduk, sementara Tante Rani menoleh ke arah pembantu rumah tangganya. “Mbak Sarti, tolong siapkan minuman dan camilan, ya.”
“Iya, Bu,” jawab Mbak Sarti sopan sebelum berlalu ke dapur.
Begitu suasana kembali tenang, Tante Rani menatap mereka dengan penuh perhatian. “Gimana kabar kalian? Udah lama banget kita nggak ngobrol santai seperti ini.”
“Kami juga senang akhirnya bisa ke sini, Tante,” ujar Kikan. “Tante sehat-sehat aja, kan?”
“Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik. Terima kasih ya, kalian perhatian banget,” jawab Tante Rani tulus.
Dona melirik sekeliling ruangan sebelum tersenyum kagum. “Tante, rumahnya keren banget.”
Ica mengangguk setuju. “Iya! Kami sempat nggak percaya kalau ini beneran rumah Tante.”
Tante Rani tertawa pelan. “Hahaha, iya ya? Memang rumah ini kelihatan besar, tapi Tante lebih nyaman tampil sederhana, biar apa adanya.”
Dita tersenyum. “Dan itu justru bikin Tante makin keren.”
Mereka tertawa bersama, mencairkan suasana yang sempat canggung di awal.
Tak lama, Mbak Sarti datang membawa nampan berisi jus jeruk dingin dan aneka kue-kue di dalam toples. Ia meletakkannya di meja dengan hati-hati.
“Nah, ayo diminum dulu. Jangan sungkan,” ujar Tante Rani ramah.
Keempat sahabat itu saling pandang, tersenyum, lalu meraih gelas mereka. Mereka datang untuk menjenguk Tante Rani, tapi perjalanan hari ini memberi mereka lebih dari yang mereka bayangkan—sebuah pelajaran bahwa setiap orang punya cerita yang lebih dalam dari apa yang tampak di permukaan.
---
*Getar Halus yang Sulit Disembunyikan
Di rumah Tante Rani, Kikan duduk di antara teman-temannya yang masih asyik berbincang. Tawa dan canda memenuhi ruangan, menciptakan kehangatan yang sudah lama tak ia rasakan. Namun, di balik senyum yang ia tunjukkan, ada getar halus dalam hatinya—sesuatu yang tak bisa sepenuhnya ia hilangkan.
Sesekali, pikirannya mengembara, membawa bayangan yang terus berulang. Kenangan yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam, tetapi tetap muncul di sela kebersamaan ini. Ia menarik napas pelan, mencoba mengusirnya.
Namun, kenangan yang sama, yang begitu ingin ia lupakan, justru tengah menjadi perdebatan panas di tempat lain.
---
*Hanya Sebatas Pion Dalam Permainan
Gio berdiri di tengah kamarnya, rahangnya mengatup erat. Percakapan barusan dengan Mamahnya masih menggantung di udara, menyisakan bara yang belum padam. Suara keras, emosi yang meluap, dan keputusan yang kembali dibuat tanpa bertanya padanya—semuanya membentuk satu rangkaian yang semakin membuatnya gerah.
Seorang kerabat Ayahnya dari Jakarta baru saja datang berkunjung, membawa serta anak gadis mereka. Awalnya, Gio berpikir itu hanya kunjungan biasa. Namun, rupanya ada rencana lain yang telah dirancang tanpa sepengetahuannya—sebuah skenario yang mengarah pada satu tujuan: menjodohkannya dengan gadis itu.
Ia merasa seolah menjadi pion dalam permainan yang tidak pernah ia setujui.