Senja Mengukir Cerita

Bias Divhanka
Chapter #6

Chapter 6 - Kode Dari Semesta

Waktu berlalu tanpa terasa. Langit sore yang hangat kini telah berubah menjadi malam yang nyaman. Di ruang tamu rumah Tante Rani, suasana tetap hangat, ditemani percakapan ringan dan camilan khas buatan tangan sang tuan rumah.

“Nah, cobain ini,” pintanya kepada mereka. “Tante baru bikin kemarin sore,” lanjut Tante Rani sambil menyodorkan sepiring nastar yang masih wangi.

“Wah, ini favoritku, Tante!” seru Dita antusias, langsung mengambil satu dan mencicipinya.

“Hmm, wangi banget! Aku jadi nggak sabar nyobain,” ujar Kikan sambil menggigit kue perlahan.

“Gimana, Ki? Enak, kan?” tanya Tante Rani, penuh harap.

“Enak banget, Tante! Lumer di mulut! Manisnya pas,” jawab Kikan, matanya berbinar.

Dona terkekeh sambil menatap Ica. “Lihat kan, Ca? Aku bilang juga, nastar buatan Tante Rani nomor satu!”

“Ya ampun, Dona. Aku baru ambil satu, udah diceramahi,” sahut Ica, tertawa kecil sebelum akhirnya ikut meraih nastar di piring.

“Tante, boleh nggak aku bawa pulang nanti? Buat bekal malam,” goda Dita, membuat semua tertawa.

“Boleh dong, asal kamu bantu Tante bikin lagi besok,” balas Tante Rani, ikut terkekeh.

Percakapan terus berlanjut, dari satu cerita ke cerita lain, hingga tiba-tiba Ica nyeletuk, memecah suasana.

“Oh ya, Tante. Keponakan Tante, si Damar, ke mana? Dari tadi nggak kelihatan tuh anak.”

Tante Rani tertawa kecil. “Damar? Palingan lagi keliling-keliling Jogja. Dia memang suka jalan sendiri kalau ada waktu senggang,” jawabnya santai, menyesap teh di hadapannya.

Namun, sebelum percakapan berlanjut, Tante Rani menatap Kikan dengan senyum penuh arti. “Ngomong-ngomong soal Damar, Tante jadi keinget sesuatu. Setelah kalian pulang dari rumah sakit kemarin, dia sempat cerita kalau pernah ketemu kamu di pantai,” ujarnya, menekankan kalimat terakhirnya.

Kikan yang tengah menyeruput teh langsung terbatuk kecil, buru-buru meletakkan cangkirnya. “Ketemu aku di pantai?” tanyanya, alisnya berkerut bingung.

“Iya, katanya waktu itu dia lagi duduk menikmati senja, lalu melihat kamu. Dia bahkan tahu namamu dari penjual kelapa muda langganannya,” lanjut Tante Rani, membuat ruangan mendadak lebih sunyi. “Tante sempat bingung waktu dia cerita, tapi setelah dijelaskan, semuanya jadi masuk akal.”

Dona menatap Kikan, penasaran. “Jadi, Damar tahu nama kamu dari penjual kelapa muda? Wah, ini lucu banget sih.”

Kikan terdiam, mencoba mencerna informasi itu. Sebuah teka-teki yang selama ini mengganjal akhirnya terjawab—tentang bagaimana Damar tahu namanya bahkan sebelum mereka benar-benar kenal.

Dita menepuk bahu Kikan pelan. “Ki, kalau dipikir-pikir, ini semacam takdir, nggak sih? Maksudku, kenapa dia bisa tahu kamu, terus jadi sering muncul di hidup kamu? Jangan-jangan emang ada sesuatu di antara kalian,” godanya, membuat wajah Kikan memerah.

“Ah, Dita, jangan mulai deh,” elak Kikan, meski hatinya sedikit tergelitik oleh kemungkinan itu.

Tante Rani terkekeh. “Ya, siapa tahu, kan! Kadang hal-hal seperti ini justru awal dari cerita yang nggak terduga. Mungkin, senja yang mempertemukan kalian punya rencana lain.”

Ucapan itu membuat suasana kembali hangat, tapi ada sesuatu yang berbeda di hati Kikan—sebuah perasaan yang sulit diungkapkan.

Setelah beberapa saat, obrolan baru pun tercipta, mencairkan keheningan. Namun, ketika Kikan melirik jam dinding, jarumnya sudah mendekati angka delapan.

Melihat malam semakin larut, Kikan dan ketiga sahabatnya mulai berinisiatif berpamitan. Namun, sebelum kata perpisahan terucap, suara pintu depan mendadak terbuka. Semua kepala spontan menoleh ke arah pintu.

Seorang pria melangkah masuk dengan tenang. Rambutnya tampak sedikit acak-acakan terkena angin malam, dan di tangannya tergenggam dua kantong plastik kecil.

“Oh, itu Damar udah pulang!” seru Tante Rani, tersenyum.

Damar sempat terkejut melihat banyak orang di ruang tamu. Namun, ekspresinya segera berubah menjadi ramah. “Eh, rame ternyata,” ucapnya santai.

“Kamu dari mana saja, Mar? Baru pulang malam begini,” goda Tante Rani.

Damar tersenyum kecil, mengangkat kantong plastiknya. “Dari pantai, Tante. Sempat mampir beli makan di angkringan. Lihat nih, bawa oleh-oleh buat Tante,” katanya, menyerahkan salah satu kantong.

Lihat selengkapnya