Satu per satu, Damar memastikan keempat gadis itu sampai di rumah masing-masing dengan selamat. Ia memulai dengan mengantar Dona terlebih dahulu, mengingat rumahnya yang paling dekat dari rute perjalanan. Setelah itu, Ica. Dan kini, giliran Dita yang turun.
“Aku duluan, ya!” ucap Dita sambil membuka pintu mobil dengan hati-hati.
“Iya, Dit. Hati-hati!” sahut Kikan dari kursi belakang, melambaikan tangan kecilnya.
Dita melangkah keluar dan segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan Kikan dan Damar berdua di dalam mobil.
“Nunggu apa lagi? Ayo jalan!” seru Kikan, sedikit tidak sabar.
Damar menoleh ke belakang, mengangkat alis dengan ekspresi seolah tak terima. “Duduknya pindah dulu ke depan, dong. Memangnya aku ini sopir?”
“Enggak mau!” Kikan menjawab dengan nada judes, sengaja menghindari kontak mata.
“Kalau gitu, mobilnya nggak akan jalan,” balas Damar santai, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.
Kikan mendengus kesal, lalu keluar dari mobil dengan langkah berat untuk berpindah ke kursi depan. Begitu duduk di samping Damar, ia langsung berseru, “Ayo, buruan jalan! Jangan bikin aku tambah kesal!”
Damar menahan tawa. “Santai dong, Bu Bos. Gimana aku bisa fokus nyetir kalau kamu terus ngomel begitu?”
Mobil melaju perlahan, menyusuri jalanan malam yang diterangi lampu kota. Dari kaca jendela, Kikan melihat deretan toko yang mulai tutup, pedagang kaki lima yang sibuk merapikan dagangan, serta lampu-lampu jalan yang berpendar temaram. Suasana malam terasa tenang, hanya sesekali suara kendaraan lain melintas.
Di dalam mobil, suasana sempat terasa canggung. Setidaknya bagi Kikan. Damar sendiri justru menikmati momen ini dengan diam-diam tersenyum. Sesekali, ia melirik ke arah gadis di sebelahnya yang sibuk memandang ke luar jendela, seolah menghindari tatapan mereka bertemu.
Sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.
“Ciiittt!”
Suara rem memekik.
Mobil mendadak berhenti.
Kikan kaget.
“Eh, kok berhenti. Ada apa?” tanyanya, menoleh cepat dengan nada was-was.
Damar memegangi perutnya, wajahnya dibuat meringis.
“Kamu kenapa?” Kikan bertanya lagi, kali ini lebih serius.
Damar menatapnya dengan ekspresi memelas. “Lapar... Kita makan dulu yuk?” ucapnya, nadanya dibuat manja seperti anak kecil.
Kikan menatapnya dengan exspresi geli. “Ih, Damar! Sudah tahu aku buru-buru mau pulang, malah ngajak makan segala!”
Damar tidak menyerah. “Aku serius, Ki. Kalau nggak makan sekarang, aku bisa pingsan di tengah jalan. Mau kamu gendong aku pulang?”
Kikan akhirnya tak kuasa menahan senyum. Ia buru-buru menunduk, menyembunyikan ekspresinya, tapi Damar keburu melihat sudut bibirnya yang sedikit tertarik ke atas.
“Kamu ini ada-ada saja, deh!”
“Tuh, kan! Berarti kamu setuju?” Damar berseru riang, wajahnya langsung berubah ceria.
Kikan mendesah, berpura-pura kesal. “Ya sudah, iya! Tapi jangan lama-lama, ya!”
Damar melajukan mobilnya lagi, kali ini lebih santai. Ia sesekali mencuri pandang ke arah Kikan, menikmati bagaimana cahaya lampu jalan memantulkan bayangan lembut di wajah gadis itu.
“Mau makan di mana, sih? Dari tadi banyak tempat makan di pinggir jalan, malah kamu lewatin terus.”
“Mana mungkin aku ngajak kamu makan di pinggir jalan,” jawab Damar santai.