Dihukum Rasa Sesal
Setiap hari yang Gio jalani, semuanya tak luput dari upayanya memaknai arti sebuah kepergian. Tiada satu malam pun yang ia lewati tanpa dihantui lamunan dan sesal.
Gio sadar, kesalahannya terlalu fatal untuk dimaafkan begitu saja. Kepergian Kikan dari hidupnya bukan tentang hilangnya rasa sayang, tetapi akibat kebodohannya sendiri dalam mengambil keputusan. Kini, dia dihukum oleh penyesalan yang terus mencengkeram, tenggelam dalam pahit tanpa kebahagiaan, dan dirangkai oleh keputusasaan tanpa setitik harapan.
Namun, di hadapan keluarganya, Gio berusaha menyembunyikan semua itu.
“Pagi, Mah! Pah!” sapanya dengan ceria, seolah tak ada beban di hatinya.
“Pagi, sayang!” jawab Mamahnya dengan senyum hangat.
“Pagi,” sambut Papahnya singkat.
“Sarapan apa kita hari ini, Mah?” tanya Gio sambil mengambil gorengan dan melahapnya dengan lahap.
“Gio, kok makan sambil berdiri kaya kuda gitu sih!” sindir Papahnya setengah bercanda.
“Hehe, maaf, Pah. Gio lupa!” jawabnya, buru-buru duduk di kursi agar tak mendapat teguran lagi.
“Eh, Yo! Tolong panggilkan Cahaya di kamarnya, ajak dia sarapan bareng, ya!” pinta Mamahnya, sambil menyendokkan nasi ke piring sang suami.
“Suruh saja Bi Inah, Mah! Gio sudah lapar, pengen sarapan dulu,” jawab Gio sedikit kesal.
“Kamu ini gimana sih! Cuma disuruh gitu aja malah balik menyuruh! Sudah, sana, buruan panggil Cahaya!” tegas Mamahnya.
Gio mendesah pelan. Dengan enggan, ia bangkit dari meja makan dan berjalan menuju kamar Cahaya.
Langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan membawa kembali ingatan yang ingin ia hindari. Lorong rumah yang biasanya terasa biasa saja kini mendadak sunyi dan panjang. Dalam diam itu, bayangan Kikan kembali hadir tanpa permisi—tatapannya, suaranya, bahkan caranya tersenyum. Gio mengatupkan rahang, mencoba menepis semuanya, tetapi semakin ia menolak, semakin jelas kenangan itu menekan dadanya.
---