Senja Mengukir Cerita

Bias Divhanka
Chapter #9

Chapter 9 - Kebenaran yang Terungkap

Alasan yang Sebenarnya

Gio sedang menikmati sarapannya ketika Mamahnya tiba-tiba meminta sesuatu. “Gio, tolong antar Cahaya belanja, ya? Sekalian ajak dia jalan-jalan.”

Gio ingin menolak, tapi... ia merasa tidak enak hati, terutama pada Cahaya. Dengan sedikit terpaksa, Gio akhirnya setuju.

Sekarang, jam menunjukkan pukul 11.30 siang. Hampir tiga setengah jam Gio menemani Cahaya berbelanja di salah satu mall terbesar di Yogyakarta.

Gio melirik jam di pergelangan tangannya. Rasanya waktu berjalan lambat. Cahaya masih tampak bersemangat memilih barang-barang, sementara ia mulai kehilangan kesabaran.

“Sudah lengkap semua yang mau kamu beli, Cahaya?” tanyanya, mencoba menahan rasa bosan.

“Tinggal cari sepatu saja. Tapi nanti saja, aku lapar sekarang. Kita makan dulu yuk?” ajak Cahaya, tersenyum kecil.

“Ya sudah, ayo,” balas Gio singkat.

Mereka pun melangkah menuju restoran di lantai atas mall. Namun, sepanjang jalan, pikiran Gio melayang ke masa lalu. Restoran yang hendak mereka tuju membangkitkan kenangan manis bersama Kikan. Di tempat itu, mereka pernah berbagi tawa, rahasia, bahkan perasaan terdalam. Sekarang, hanya bayangan yang tersisa.

Gio menarik napas panjang. “Kikan, aku rindu sekali padamu…”

“Gio!” panggilan Cahaya membuyarkan lamunannya.

Gio tersentak, matanya berkedip bingung. “Iya? Kenapa?”

“Itu loh, ada ibu-ibu dari tadi manggil-manggil kamu. Kamu kenal?” Cahaya menunjuk seseorang di depan mereka.

Gio mengarahkan pandangannya. Sosok perempuan paruh baya dengan baju warna krem terlihat melambaikan tangan.

“Tante Retno?” seru Gio, terkejut sekaligus senang.

Perempuan itu tersenyum lebar. “Gio, apa kabar?” sapanya hangat, melirik Cahaya sekilas.

“Baik, Tan. Alhamdulillah. Tante sendiri gimana?”

“Tante juga baik. Lagi belanja, ya?”

“Iya, Tan. Habis muter-muter mall sama Cahaya,” jawab Gio, menunjuk ke arah Cahaya.

Lihat selengkapnya