Senja Mengukir Cerita

Bias Divhanka
Chapter #10

Chapter 10 - Kejutan di Ruang Tamu

*Kejutan di Ruang Tamu

Suara obrolan terdengar samar dari dalam rumah, disertai tawa kecil yang familiar. Namun, ada satu suara asing di sana—suara laki-laki. Kikan mengerutkan dahi, rasa penasaran menyelinap saat ia melepas sepatu di teras.

Mamah lagi ngobrol sama siapa? bisiknya, nyaris tak terdengar.

Dengan langkah ringan, Kikan membuka pintu, mengucapkan salam, lalu masuk ke dalam rumah.

“Lama banget pulangnya, Sayang. Habis dari mana?” Mamah menyambutnya dengan senyum hangat saat ia menyalami tangan perempuan paruh baya itu.

“Habis main sama Dita, Ica, sama Dona, Mah,” jawabnya singkat, tapi matanya langsung terpaku pada sosok tamu yang duduk santai di ruang tamu.

Langkahnya terhenti. Dadanya seketika terasa panas.

“Ngapain kamu di sini?” tanyanya dingin.

Damar.

Lelaki itu duduk santai, menatapnya dengan senyum lebar tanpa dosa, seakan tidak ada yang salah dengan kehadirannya di sini.

“Kikan, kok begitu sih ngomongnya sama pacar sendiri?” celetuk Mamah tiba-tiba.

Kikan sontak menoleh ke arah Mamah, lalu beralih ke Damar yang kini malah mengangkat alis dengan ekspresi penuh keusilan.

“Pacar?” ulangnya, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

“Sudah, enggak usah pura-pura lagi! Mamah sudah tahu semuanya. Kalian pacaran, kan? Maaf ya, Damar, kalau Kikan suka jutek. Dia memang begitu anaknya, mungkin karena malu,” ujar Mamah dengan nada setengah menggoda. 

“Oh, enggak apa-apa kok, Tan, Damar ngerti. Memang Kikan selalu spesial di hati Damar,” jawab Damar dengan suara lembut tapi penuh keusilan, sambil melemparkan senyum mematikan ke arah Kikan.

“Benar, kan, sayang?” lanjutnya, sengaja menekan kata terakhir. 

“Nih orang lama-lama makin kelewatan!” Kikan bergumam kesal di dalam hati. Wajahnya memerah karena malu sekaligus jengkel.

Damar jelas menikmati situasi ini. Sementara Kikan berusaha keras untuk tidak meledak di depan Mamahnya. 

Mamah terkekeh kecil melihat reaksi mereka berdua. “Berhubung Kikan sudah pulang, Mamah tinggal ke dapur, ya! Damar, enggak keberatan, kan, kalau tante tinggalin Damar ke dapur?”

“Enggak apa-apa, Tan. Malah senang bisa ngobrol lebih lama sama Kikan,” jawab Damar dengan santai. 

Mamah tersenyum, lalu menatap Kikan dengan pandangan penuh arti. “Sayang, Mamah ke dapur dulu, ya. Jangan galak-galak sama Damar,” bisiknya pelan sebelum beranjak pergi. 

Lihat selengkapnya