*Menagih Janji Makan Malam Kedua
Sunyi menyelimuti ruang tamu rumah Kikan. Damar masih duduk bersandar di sofa dengan santai. Sementara Kikan sendiri, terlihat menahan sebal. Sejak Mamahnya pergi ke dapur, Kikan hanya diam, seolah mulutnya terkunci untuk membuka percakapan dengan Damar.
“Ngomong dong, kenapa diam aja? Bisu ya?” ledek Damar sambil menyeringai jahil, menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Kikan menatap Damar dengan wajah masam, sama sekali tidak tertarik membalas ledekan itu.
“Kamu kenapa sih, ngaku-ngaku jadi pacar aku ke Mamah?” Kikan akhirnya buka suara, tapi nada kesalnya kentara sekali.
“Ya ampun! Jadi dari tadi kamu cemberut cuma gara-gara itu?” Damar malah tertawa kecil, menutupi mulutnya seperti takut ketahuan.
“Iya, lah! Kamu tuh ngapain datang ke sini, terus bikin cerita aneh-aneh kayak gitu?” Kikan melipat tangan di depan dada, matanya menyipit penuh selidik.
“Yah, cuma ingin main, silaturahmi. Masa nggak boleh? Ini kan rumah calon istri, masa aku nggak boleh datang?” balas Damar, masih dengan senyum tipis yang sukses membuat darah Kikan naik ke ubun-ubun.
Kikan menatap Damar tajam. “Ngapain juga kamu ke sini, kan kita nggak ada hubungan, Damar!”
“Kata siapa nggak ada hubungan? Kamu tahu nama aku, aku tahu nama kamu. Udah, selesai. Itu artinya kita saling kenal. Hehe!” Damar menaikkan kedua alisnya, menggoda.
“Heu! Kamu ini ya… udah, sana pulang! Aku capek, mau istirahat!” seru Kikan sambil melirik ke arah pintu, memberi isyarat halus tapi tegas bahwa kunjungan ini sudah usai.
“Oh, diusir nih ceritanya? Ya sudah, aku pulang deh. Tapi aku pamit dulu sama Tante Retno, kasih tahu kalau aku buru-buru pulang karena diusir anaknya sendiri!” sahut Damar, pura-pura serius sambil berdiri seolah benar-benar akan ke dapur.