*Kenangan yang Terberai
“Kita hanyalah dua hati yang pada awalnya tidak saling mengenal, lalu dipertemukan dalam perjalanan mencari titik kenyamanan. Namun pada akhirnya, langkah kita hanya merayap dalam pekat. Mencoba meraba dinding hati yang telah penuh goresan luka, tetapi yang tersisa hanyalah harapan semu yang menggantung di udara, menghadirkan kepiluan yang tak kunjung usai.”
---
Hari-hari setelah pertengkaran itu membuat Arum tersadar. Tak semestinya ia melampiaskan dendam masa lalu pada mereka yang memiliki kisah berbeda.
Malam-malam panjang dilewatinya dengan penuh renungan, hingga pada akhirnya satu keputusan terlintas—memperbaiki semuanya.
Tanpa rencana, Arum menghubungi Kikan dan mengajaknya bertemu.
Awalnya Kikan hendak menolak. Luka masa lalu masih terasa perih di hatinya. Namun pada akhirnya, ia mengiyakan ajakan tersebut.
Kikan duduk di hadapan Arum dengan perasaan tak menentu. Segelas jus di depannya tinggal setengah, sementara kecanggungan menggantung di antara keduanya.
“Kikan…”
Suara Arum terdengar rendah, nyaris tenggelam dalam pekatnya malam. Seperti menggantung di udara, ragu-ragu, seolah menimbang sesuatu yang berat.
“Tante benar-benar minta tolong sama kamu… Tante tahu, tante sudah banyak salah. Izinkan tante memperbaiki semuanya.”
Kikan terdiam. Kata-kata itu jatuh perlahan, namun menghantam bagian hatinya yang paling rapuh. Ia tidak langsung menjawab. Tangannya hanya menggenggam gelas di depannya, sementara pikirannya berputar tanpa arah.
Pertemuan itu berakhir tanpa banyak kata. Kikan pulang dengan langkah pelan, membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Malam itu, ia berdiri diam di halaman rumah, menatap langit kelam tanpa bintang. Udara terasa dingin, tetapi bukan itu yang membuat tubuhnya menggigil. Kata-kata Tante Arum terus berputar dalam kepalanya, mengusik setiap ruang dalam hatinya yang telah penuh luka.
Kenapa sekarang?
Setelah sekian lama menanggung kesakitan akibat perpisahan yang mengiris hati, mengapa sosok yang selama ini seolah tak peduli baru sekarang muncul untuk meminta maaf?
Dadanya terasa sesak. Ia ingin berteriak, melampiaskan semua perasaan yang terpendam bertahun-tahun. Namun suara itu tertahan di tenggorokannya, mengendap menjadi keheningan yang menyakitkan.
“Kenapa sekarang, Tante?” gumamnya pelan. “Kenapa tidak dulu, ketika aku benar-benar membutuhkan seseorang?”
Selama ini ia berjuang sendirian, menata puing-puing hatinya yang berserakan. Dan kini, saat ia mulai mampu berdiri, permohonan maaf itu justru datang.