Senja Mengukir Cerita

Bias Divhanka
Chapter #15

Chapter 15 - Yang Datang Bukan Dia

*Yang Datang Bukan Dia


“Yo, aku tunggu, jangan lama-lama, Mar. Aku sudah lapar soalnya!” suara Kikan terdengar ceria lewat telepon.

“Siap, kanjeng ayu,” jawab Damar singkat, lalu mematikan sambungan.

Sudah beberapa waktu mereka jarang bertemu karena kesibukan kuliah. Ajakan makan malam dari Damar membuat Kikan tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia memang merindukan kebersamaan sederhana itu—bercanda tanpa arah, tertawa tanpa beban.

Namun entah mengapa, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Perasaan kecil mengendap di dadanya, membuatnya sedikit gugup bahkan sebelum pertemuan itu benar-benar terjadi.

“Duh! Mau pakai baju apa ya? Yang ini udah, yang itu juga udah. Duh, semuanya udah! Harus pakai baju yang mana dong? Masa iya itu lagi, itu lagi bajunya? Gimana kalau nanti si Damar ngeh? Yang ada dia ngeledekin lagi! Kayak enggak tahu si Damar semprong aja!” ucap Kikan gusar, sambil memeriksa koleksi bajunya di lemari.

Beberapa baju sudah tergeletak di atas kasur, namun tak ada satu pun yang benar-benar pas di matanya. Dia merasa tak puas, hingga akhirnya, ingatan tentang pakaian yang dia beli dua hari yang lalu saat menemani mamanya berbelanja muncul dalam pikirannya.

“Benar juga, waktu itu kan aku sempat beli baju! Hahay! Untung keingetan!” ujarnya dengan senyum yang merekah, merasa lega karena akhirnya menemukan solusi.

Dengan kegirangan, Kikan meraih baju yang masih terbungkus plastik dari brand terkenal itu, dan segera mencoba mengenakannya. Beberapa saat dia berdiri di depan cermin, berputar-putar kecil, mencoba melihat dirinya dalam pakaian baru itu.

Ketika Kikan merasa cukup, tiba-tiba ada suara ketukan di pintu kamarnya.

“Eh, Mamah! Kenapa, Mah?” jawab Kikan, sedikit terkejut.

“Ada yang nungguin di depan!” jawab mamanya dengan nada menggoda.

Lihat selengkapnya