*Ketika Takdir Berbicara
Kikan berdiri mematung di ambang pintu, tatapannya tak lepas dari setangkai mawar yang Gio ulurkan. Udara malam yang sejuk seakan tak mampu meredam panas yang tiba-tiba menyerang dadanya. Perasaan asing menyelusup ke dalam hatinya, membuatnya kehilangan kata-kata. Detik terasa melambat, dan segala suara di sekitarnya seolah menghilang, menyisakan hanya degup jantungnya yang terdengar semakin keras.
“Kikan... aku mau minta maaf.” Suara Gio terdengar pelan. Tangannya sempat menarik Kikan ke dalam pelukan, seolah takut kehilangan momen itu.
Kikan terkejut. Tubuhnya kaku. Pelukan itu datang begitu tiba-tiba, tanpa memberi kesempatan baginya untuk bersiap. Aroma yang dulu begitu familiar kembali menyeruak, memancing kenangan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Namun, sebelum perasaan itu sempat tumbuh lebih jauh, Kikan buru-buru melepaskan dirinya.
Ia tersenyum tipis, meski jelas terlihat canggung. “Maaf, Gio. Aku... aku harus bersiap. Aku ada janji malam ini,” ucapnya cepat, lalu menutup pintu sebelum pria itu berkata lebih jauh.
Begitu pintu tertutup, Kikan bersandar di baliknya. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar tanpa ia sadari. Kenapa Gio tiba-tiba datang? Kenapa dengan mawar? Apa dia menginginkan sesuatu yang seharusnya sudah lama berlalu?
Kikan menghempaskan tubuhnya ke kasur, menatap langit-langit dengan perasaan kacau. Pikirannya berputar cepat, mencampuradukkan masa lalu dan kenyataan saat ini. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, namun justru semakin gelisah.
Tangannya meraih ponsel, mencari nama yang belakangan selalu memberinya ketenangan.
“Damar...” gumamnya pelan, lalu menekan tombol panggil.
Nada sambung terdengar. Namun tak ada jawaban.
“Damar ke mana sih? Angkat dong teleponnya,” keluhnya, matanya sesekali melirik jam di pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat lima menit, jauh dari waktu yang dijanjikan.
Ia mencoba lagi. Masih sama. Nada sambung terus berbunyi.