Senja Mengukir Cerita

Bias Divhanka
Chapter #17

Chapter 17 - Langkah yang Menjauh

Dua Minggu Kemudian

Waktu berlalu sejak keputusan malam itu, tetapi bagi Damar, hari-hari terasa berjalan tanpa arah. Kesunyian selalu datang lebih cepat dari biasanya. Nama Kikan masih berputar di kepalanya, hadir di setiap jeda pikirannya. Ia sadar, perasaan yang terlanjur tumbuh tak semudah itu dihapus, meski ia sudah berusaha menjauh. Setiap malam, ia terbiasa menatap layar ponselnya lebih lama dari yang seharusnya, berharap ada pesan yang muncul. Namun layar itu selalu tetap sunyi.

Hari-harinya diisi rutinitas yang terasa hambar. Kuliah, pulang, tidur, lalu kembali mengulang semuanya. Teman-temannya menyadari perubahan itu, tetapi Damar selalu menutupinya dengan senyum tipis. Hanya dirinya sendiri yang tahu, ada ruang kosong yang terus menganga di dalam hatinya.

Sore itu, tanpa benar-benar ia sadari, langkahnya kembali membawanya ke tempat yang selama ini menjadi pelariannya.

Warung kecil di tepi pantai itu masih sama. Kursi kayu sederhana, aroma kelapa muda, dan suara ombak yang tak pernah berubah. Semua terasa akrab—dan justru itulah yang membuat dadanya semakin sesak. Setiap sudut tempat itu menyimpan kenangan. Tawa, percakapan ringan, hingga keheningan yang pernah ia nikmati bersama seseorang yang kini terasa begitu jauh.

“Hallo, Mbo…” sapa Damar pelan.

Mbo Sur yang sedang merapikan dagangan langsung menoleh. “Eh, Mas Damar! Ke mana saja toh? Baru kelihatan lagi.”

Damar duduk di kursi favoritnya. Laut di depannya tampak tenang, berbanding terbalik dengan hatinya yang bergelora. Ia menarik napas dalam, membiarkan aroma asin laut memenuhi dadanya.

“Sibuk kuliah, Mbo,” jawabnya singkat.

Mbo Sur memperhatikannya lama. “Mas Damar kok kelihatan pucat begitu? Enggak biasanya lesu.”

“Kurang tidur saja, Mbo. Banyak tugas,” jawabnya cepat, meski ia tahu alasan itu terdengar lemah.

“Tak bikinin kelapa muda? Biar segar.”

Damar menggeleng pelan. “Enggak usah, Mbo. Damar cuma mampir sebentar.”

“Lho, biasanya kalau sudah di sini betahnya bukan main,” gumam Mbo Sur heran.

Damar terdiam. Tatapannya lurus ke laut. Angin pantai berhembus pelan, mengacak rambutnya. Ombak datang silih berganti, seolah membawa pergi setiap kata yang ingin ia ucapkan. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata lirih,

“Sebenarnya… Damar ke sini mau pamitan, Mbo.”

Mbo Sur terkejut. “Pamitan? Mau ke mana, Mas?”

Lihat selengkapnya