Hampa yang Tak Terucap
Di sudut kota yang jauh dari deburan ombak
Malam itu hujan turun perlahan, membawa kesejukan yang seharusnya menenangkan—tetapi justru menambah kegelisahan yang bergejolak di dadanya. Hujan jatuh di kaca jendela restoran, membentuk garis-garis tipis yang perlahan mengaburkan pandangannya ke luar. Suasana di dalam terasa hangat, tetapi tidak mampu menghangatkan isi hatinya. Kikan memandang keluar jendela restoran. Ia bahkan tak benar-benar memperhatikan makanan di depannya, pikirannya jauh melayang pada seseorang yang sudah lama tidak ia temui. Matanya berkaca-kaca, meskipun ia berusaha keras untuk menahannya. Dalam keheningan yang tiba-tiba, dia kembali teringat saat-saat bersama Damar—senyuman tulus yang tak pernah ia temui di tempat ini bersama Gio.
“Sayang, kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin melamun terus. Kamu lagi enggak enak badan?” tanya Gio dengan wajah cemas.
Suara itu terdengar dekat, namun terasa jauh di telinga Kikan.
Sejak datang ke rumah Kikan malam itu, Gio berusaha merajut kembali apa yang sempat terputus bersama Kikan. Hari-hari setelahnya ia selalu datang ke rumah Kikan—menunjukan sebuah pembuktian—kalau dulu ia tak pernah ingin meninggalkan. Dendam orang tuanya yang tak berdasar itu yang memaksa ia berada di posisi sekarang. Pergi meninggalkan Kikan, meski hatinya masih teramat sayang.
Awalnya, Kikan merasa enggan, tapi entah kenapa ia kembali memberi Gio kesempatan. Dan malam ini adalah makan malam pertama mereka setelah resmi kembali bersama—lebih dari satu tahun setelah perpisahan yang penuh dengan kerinduan dan pertanyaan yang tak terjawab.
Restoran tempat mereka makan saat ini menyimpan kenangan khusus; di sinilah dulu Gio pertama kali mengungkapkan perasaannya, tempat di mana hubungan mereka dimulai dengan penuh harapan. Kini, Gio ingin menghidupkan kembali kenangan manis itu, berharap kehangatan yang dulu ada bisa tumbuh lagi di antara mereka.
Kikan tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang menghiasi matanya. Jemarinya tanpa sadar meremas serbet di atas meja, seolah mencari sesuatu untuk menahan kegelisahan yang semakin sulit disembunyikan. “Enggak kok, aku baik-baik saja. Mungkin... kita pulang saja ya, setelah ini?”
Gio menatapnya dengan heran. “Kenapa buru-buru? Bukannya kita mau mampir ke tempat-tempat yang dulu sering kita kunjungi?”
“Lain kali saja, ya?” Kikan mengelak, suaranya pelan. “Aku ngerasa badan agak enggak enak, kayak mau meriang.”
“Oh... ya sudah, habis makan aku antar kamu pulang, ya,” ujar Gio sambil tersenyum lembut. “Jaga kesehatan kamu, sayang.”
“Iya, makasih...” jawab Kikan sambil mencoba membalas senyum Gio, meski hatinya terasa sesak. Saat Gio menggenggam tangannya, ada rasa asing yang tiba-tiba menjalari tubuhnya. Panggilan “sayang” dari mulut Gio terasa begitu berbeda, dan genggaman tangannya seolah tak lagi memberikan kehangatan seperti yang dulu pernah ia rasakan. Ada yang salah, tetapi Kikan enggan untuk mengakui perasaannya. Sesaat Kikan terdiam, membiarkan genggaman itu, namun hatinya tidak lagi merespons seperti dulu. Ada ruang kosong yang tidak bisa lagi diisi oleh sentuhan itu.
Sejenak ia menunduk, membiarkan tatapan kosong menyapu ke arah piring makan di depannya. Sosok Gio ada di sampingnya, namun pikirannya terbang jauh, teringat pada sosok lain, pada tatapan penuh perhatian dan suara yang tak pernah lelah mendengarkannya.
“Tuhan, kenapa begini? hatinya berbisik. Kenapa saat aku akhirnya kembali bersama Gio, semuanya terasa hampa? Bukankah dulu aku merindukan hari ini? Tapi kenapa sekarang, semuanya seperti ada yang hilang dalam diriku... sesuatu yang tak mungkin kumiliki kembali...” Ia mencoba mencari alasan dalam setiap perasaan yang datang, tapi semakin ia berpikir, semakin ia merasa tersesat dalam dirinya sendiri.