Rindu yang Tak Bisa Disangkal
Di sore yang hening
Udara sore terasa berat, seperti membawa sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Matahari yang mulai turun perlahan tidak memberi kehangatan, hanya menyisakan warna yang redup dan terasa kosong di langit. Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Rindu yang selama ini coba diabaikan, perlahan mencuat ke permukaan. Malam-malam panjang kerap menghadirkan pertanyaan yang tak pernah benar-benar terjawab.
Kenapa Damar menghilang?
Rasa apa sebenarnya yang ia miliki untuk Damar?
Kenapa kini ia begitu merindukan kehadiran lelaki itu?
Setiap hari yang dilewatinya terasa kehilangan warna. Aktivitas yang dulu terasa biasa saja kini tampak kosong. Bahkan suara tawa teman-teman di kampus terasa jauh, seolah-olah semua suara hanya lewat tanpa benar-benar menyentuh dirinya. Ia ada di sana, tetapi tidak benar-benar hadir di dalamnya. Ada ruang hampa yang diam-diam tumbuh, semakin besar dari hari ke hari.
Batinnya lelah.
Benar-benar lelah.
Ia mencoba menahannya, berpura-pura semuanya baik-baik saja. Namun tubuhnya tak mampu berbohong. Kurang tidur, pikiran yang terus berputar, dan beban perasaan yang dipendam membuat daya tahannya melemah. Hingga akhirnya, raga itu menyerah—dan Kikan pun jatuh sakit. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga sedikit demi sedikit, sampai akhirnya ia tidak lagi mampu berpura-pura kuat.
Demam yang datang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup membuat tubuhnya lemas. Ia lebih banyak terbaring di tempat tidur, memandangi langit-langit kamar yang terasa semakin sunyi. Sesekali ia memejamkan mata, berharap tidur bisa membawa ketenangan, tetapi bayangan Damar justru datang semakin jelas.
Mendengar kabar sahabatnya sakit, Dita segera datang menjenguk. Langkahnya tergesa, napasnya masih belum stabil karena terlalu khawatir. Bahkan dari luar kamar saja, sudah terasa ada sesuatu yang tidak beres. Ia bahkan hampir berlari ketika memasuki kamar Kikan. Begitu melihat kondisi sahabatnya yang tampak pucat, terbaring lemah di atas ranjang, Dita langsung terkejut.
“Ya ampun, Kikan! Kenapa enggak ngabarin aku lebih awal sih kalau kamu sakit?” keluh Dita, wajahnya penuh kepanikan. Ia meletakkan tasnya begitu saja di kursi. Mamahnya Kikan yang memberi kabar lewat telepon membuatnya buru-buru datang tanpa sempat berpikir panjang.
“Aku enggak apa-apa kok, Dit. Cuma kurang tidur aja,” Kikan mencoba tersenyum, meskipun wajahnya tampak lelah. Ia berusaha menutupi perasaan sakit yang lebih dalam dari sekadar fisik.
Dita duduk di tepi ranjang, menatapnya cemas. “Gio tahu kamu sakit?”
“Enggak,” jawab Kikan pelan. Suaranya serak. “Aku enggak mau dia tahu.”