Keputusan Sulit
Seiring berlalunya hari, usaha Kikan mencari keberadaan Damar justru semakin memberatkan langkahnya. Setiap detik terasa begitu panjang, seperti beban yang enggan lepas dari pundaknya. Setiap kali ia melangkah, pikirannya terasa berat, seolah ada sesuatu yang terus menariknya kembali ke titik yang sama, tanpa memberinya kesempatan untuk benar-benar maju.
Hari demi hari berlalu, namun pencariannya tetap tak membuahkan hasil. Kikan hanya bisa meratap dalam diam, merindukan Damar dalam kesunyian yang menyiksa. Ia menangis di dalam hati, tanpa suara yang mampu keluar. Semua perasaan ini terpendam, tertahan oleh kepedihan yang tak lagi bisa diungkapkan.
“Bagaimana bisa aku menemukanmu, Damar, ketika setiap langkahku terasa semakin menjauh darimu?” lirihnya dalam hati.
Dunia seakan menutup semua jalan yang mengarah pada Damar. Kikan mulai bertanya-tanya, Apakah takdir memang tidak mengizinkan bertemu dengannya lagi? Apakah ia harus berhenti berharap? Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya, bahkan saat ia mencoba mengalihkan perhatian pada hal lain, seakan tidak ada ruang bagi pikirannya untuk benar-benar tenang.
“Kamu yakin dengan keputusanmu, Ki?” suara Dita memecah lamunannya. Ada kekhawatiran yang begitu nyata dalam nada suaranya, membuat Kikan menoleh, menatap sahabatnya dengan mata yang penuh kebingungan.
Sudah lebih dari dua minggu ia mencari Damar, menyusuri tempat-tempat yang dulu menyimpan kenangan, menanyakan orang-orang yang mungkin tahu keberadaannya. Tapi semuanya berakhir sama—hampa dan penuh kekecewaan. Kini, ia berdiri di persimpangan. Antara terus berusaha atau melepaskan semuanya.
Kikan menarik napas panjang sebelum menjawab, “Aku… nggak tahu, Dit.”
Dita menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari secercah harapan di mata sahabatnya yang semakin redup.
Ica menimpali. Suaranya sarat dengan kekhawatiran. Seakan ia mencoba meraih tangan Kikan dari jurang kesedihan yang semakin dalam. “Mending kamu pikir-pikir lagi deh, Kikan! Kamu nggak mesti mengambil keputusan ini sendirian. Iya kalau dalam waktu dekat Damar datang, tapi kalau sampai seumur hidup dia nggak pernah kembali, apa kamu akan selamanya sendirian?”
Suasana ruangan terasa semakin berat, udara seperti ikut menahan napas mendengar percakapan itu. Kikan menunduk, memeluk dirinya sendiri seolah berusaha menahan luka yang semakin menganga. “Jika memang harus seperti itu, maka aku akan menjalaninya dengan ikhlas. Aku hanya ingin menebus kesalahanku padanya,” jawabnya pelan, suaranya bergetar, penuh kepedihan yang tak bisa lagi ia sembunyikan.
“Tapi kan masih banyak cara untuk menemukan Damar, Ki! Kamu nggak harus mengambil keputusan seperti ini juga!” seru Dita, nadanya penuh ketidaksetujuan. Ia tidak ingin sahabatnya menyerah begitu saja pada nasib.
Kikan mengangkat wajahnya, menatap mereka satu per satu dengan mata yang basah. “Entahlah… Aku hanya merasa letih, Dit.” Suaranya terdengar pelan, hampir pecah, seperti seseorang yang sudah terlalu lama memikul sesuatu sendirian tanpa tempat untuk bersandar. “Setiap langkah selalu membawaku ke jalan yang terjal dan berliku. Aku capek, Dit, Don, Ca… Mungkin dengan aku memilih ini, aku bisa menghindar dari rasa sakit yang selalu datang dan membebani perasaanku.”