Jawaban dari Semesta
Hari demi hari berlalu, langkah itu terus membawanya kembali ke sini—ke pantai ini. Mungkin ia berharap sesuatu akan berubah, atau mungkin ia hanya tidak tahu ke mana lagi harus pergi. Setiap kali berdiri di tepi ombak, ia membiarkan angin membawa suara lirihnya, berharap semesta mendengar.
Dan akhirnya, semesta benar-benar mendengar.
Hari itu, di antara desir angin dan deburan ombak, ada seseorang yang memperhatikannya. Seorang perempuan—sorot matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan pemahaman. Seakan ia mengerti beban yang Kikan pikul di dada.
“Mbak mencarinya, kan?” suara itu terdengar lirih, tapi cukup jelas untuk menembus kebingungan Kikan.
Ia menoleh, menatap perempuan itu dengan mata penuh tanya. “Mbo, Sur?” katanya ragu, setelah jelas melihat raut wajah perempuan itu. “Apa maksudmu, Mbo,? tanyanya lagi.
Mbo Sur tersenyum tipis. “Mbak Kikan mencari keberadaan Damar, kan?”
Hati Kikan seketika bergetar—bertanya, bagaimana mungkin ia tahu apa yang ada dalam pikirannya? Dan tiba-tiba, Kikan teringat akan ucapan Tante Rani kala itu. “Damar tahu nama kamu dari seorang penjual kelapa di pantai.”
Apakah mungkin...? Dan, apakah ini jawaban yang selama ini ia doakan? Ataukah ini hanya harapan kosong yang kembali dimainkan takdir?
Namun, saat Mbo Sur mengulurkan sesuatu ke arahnya—selembar kertas yang tampak usang—Kikan tahu, semesta akhirnya menjawab.
Itu bukan sekadar petunjuk. Itu adalah pesan. Pesan dari Damar.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada cahaya kecil yang menyelinap di antara kegelapan hatinya.
“Ambillah, Mbak. Mas Damar sudah menyiapkan ini untuk Mbak,” tegasnya. “Mas Damar sangat mencintai Mbak Kikan. Ia tahu, suatu hari Mbak bakal datang ke sini dalam keadaan bersedih. Dan ia berharap, surat ini akan membuat Mbak kembali tersenyum,” lanjutnya.
Kikan meraih kertas usang itu. Lalu perlahan membacanya.
Dear, Kikan...
Jika surat ini sampai ke tanganmu, itu berarti aku telah berada di suatu tempat yang jauh darimu. Aku ingin bercerita, tentang bagaimana perasaanku saat pertama kali melihatmu.
Entah dari mana angin itu datang, tapi langkah kakiku terasa seolah dipandu menuju pantai ini—tempat yang kelak menjadi saksi pertemuan kita. Saat pertama kali aku melihatmu, ada sesuatu dalam diriku yang bergetar. Sebuah rasa yang tak bisa kujelaskan, seolah ada kekuatan tak kasat mata yang menarikku untuk mendekat, untuk memahami siapa dirimu lebih dalam. Namun, aku tahu saat itu, hatimu tengah dilanda badai. Dan aku ingin ada di sana—bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai seseorang yang menuntunmu keluar dari kegelapan itu, menemanimu menemukan kembali cahaya yang pernah redup dalam dirimu.
Di bawah naungan senja, aku memberanikan diri menyapamu. Aku mengirimkan keinginan lewat angin yang berembus, berharap sapaanku sampai padamu. Namun sayang, suaraku tenggelam, mungkin oleh deburan ombak yang terlalu keras, atau mungkin karena hatimu yang terlalu penuh dengan luka hingga tak mampu mendengar.