Senja Mengukir Cerita

Bias Divhanka
Chapter #22

Chapter 22 - Selangkah Lebih Dekat

Selangkah Lebih Dekat


Kertas kecil itu terus ia genggam erat saat meninggalkan pantai. Di dalamnya tertulis alamat yang kini menjadi harapan baru bagi hatinya. Tanpa menunda waktu, Kikan segera mengabari ketiga sahabatnya. Mereka semua merasa lega dan bahagia mendengar kabar bahwa Kikan akhirnya mengetahui keberadaan Damar.

Tak lama kemudian, dengan hati penuh harapan dan langkah yang mantap, mereka memulai perjalanan menuju tempat yang jauh—tempat yang mungkin akan mempertemukan kembali dua hati yang lama terpisah.

Perjalanan panjang itu akhirnya membawa mereka ke sebuah rumah di sudut kota Bandung.

Jalan Kencana 03, Kelurahan Malabar, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat.

Pukul 16.00 sore hari…

“Benar nggak ya ini rumahnya?” tanya Dona, matanya terpaku pada bangunan di hadapan mereka. Rumah klasik dengan arsitektur megah, tapi tampak sunyi. Pagar besi tinggi mengelilinginya, seakan menjaga rumah itu dari dunia luar.

Kikan menatap kertas di tangannya, membaca alamat yang tertera dengan saksama. “Kalau menurut alamat ini, harusnya sih benar…” katanya pelan, meski ada keraguan yang tak bisa ia sembunyikan. Jemarinya sedikit meremas ujung kertas itu—tanda bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Tapi kok kayak nggak ada penghuninya ya?” Dita ikut berkomentar, matanya menelusuri halaman rumah yang tampak tak terawat. Rumput liar menjalar di pagar, dedaunan kering berserakan di tanah.

Keheningan melingkupi mereka, hanya suara angin yang berbisik di antara pepohonan.

“Assalamualaikum! Permisi!” Kikan akhirnya bersuara, suaranya menggema di sepanjang jalan. Tak ada jawaban.

“Assalamualaikum! Permisi! Ada orang di dalam?” Ia mengulang dengan nada lebih keras, berharap suaranya cukup untuk membangunkan rumah yang seolah tertidur.

Masih hening.

“Assalamualaikum! Spada? Ada orang di dalam rumah?” Ica ikut berteriak, kali ini lebih lantang.

“Ca, jangan keras-keras, nanti ganggu tetangga!” tegur Dona, melirik ke kanan-kiri dengan gelisah.

“Tuh kan! Benar apa kata aku! Suara kamu itu terlalu keras. Lihat, ada yang keluar!” bisik Dona, menuding rumah sebelah.

Pintu gerbang rumah itu terbuka, seorang wanita paruh baya muncul dengan langkah santai. Ia mengenakan daster sederhana yang sedikit lusuh, tapi wajahnya ramah.

“Bade milarian saha, Neng?” tanyanya dengan logat Sunda yang kental.

Kikan saling pandang dengan teman-temannya.

“Apa katanya?” gumamnya pelan.

“Mana aku tahu!” jawab ketiganya serempak.

Kikan tersenyum canggung lalu melangkah mendekat. “Maaf, Bu. Saya nggak paham bahasa Sunda,” katanya pelan, wajahnya sedikit memerah.

Wanita itu tertawa kecil, matanya berbinar. “Kakak-kakak cantik ini cari siapa?” tanyanya ramah.

“Oh, Bu. Saya mencari rumah Damar. Apakah benar ini rumahnya?” Kikan bertanya hati-hati. Ada nada harapan dalam suaranya.

“Oh, Damar!” Wanita itu mengangguk. “Iya, betul. Ini rumahnya.”

Mata Kikan berbinar, tapi belum sempat ia bicara lagi, wanita itu lebih dulu bertanya, “Neng dari mana? Ada urusan apa sama Damar?”

“Kami dari Yogyakarta, Bu. Kami ke sini untuk mencari Damar. Ada sesuatu yang penting yang harus kami bicarakan dengannya,” jelas Kikan.

Wanita itu mengangguk-angguk, lalu menghela napas pelan. “Oh… Tapi kayaknya Damar nggak ada di rumah sekarang.”

“Oh…” Kikan sedikit kecewa. “Kalau begitu, ada siapa di dalam, Bu?”

Lihat selengkapnya