Senja Mengukir Cerita

Bias Divhanka
Chapter #23

Chapter 23 - Pertemuan yang Tertunda

Pertemuan yang Tertunda


Kikan dan ketiga sahabatnya terus menelusuri setiap sudut Taman Kota itu, seakan dunia mereka menyusut menjadi hanya taman yang luas ini. Meski belum menemukan hasil, mereka tak berhenti berusaha, seperti langkah tak kenal lelah yang mengikuti jejak harapan. Meskipun, seiring waktu, sedikit rasa putus asa sempat menyelinap dalam hati mereka, terutama hati Kikan yang merasakan ketegangan itu semakin mengikat. Namun, setiap kali Kikan memikirkan seberapa jauh sahabat-sahabatnya sudah menemani langkahnya hingga saat ini, perasaan itu segera berubah menjadi rasa malu yang mengganjal. Mereka bertiga, dengan segala upaya dan waktu yang telah mereka curahkan, tidak pantas melihatnya menyerah pada rasa putus asa. Dan Kikan, yang menjadi pusat dari pencarian ini, merasa harus tetap bertahan, meski hatinya masih merana.

Di bawah langit malam yang mulai menggelap, napas Kikan semakin terasa berat. Tubuhnya mulai lelah, setiap langkah yang ia ambil di bawah sinar temaram lampu taman terasa semakin sulit. Angin malam yang berdesir lembut, ditambah dengan riuh rendah percakapan orang-orang yang masih duduk di bangku taman, seolah semakin menambah beban dalam dirinya. Suara-suara itu menjadi latar yang menambah kehampaan, hingga langkahnya terasa semakin berat. Tetapi, bagaimana mungkin ia berhenti? Mereka sudah mengerahkan seluruh upaya mereka untuk membantunya, jadi tak ada alasan bagi Kikan untuk berhenti mencari.

"Apakah kamu baik-baik saja, Kikan?" bisik hatinya sendiri, terasa cemas di antara harapan dan ketakutan yang membuncah. Berulang kali ia membayangkan, jika ia akhirnya bertemu dengan Damar, apa yang seharusnya ia katakan? Apakah ia harus menuntut penjelasan tentang kepergiannya yang tanpa jejak? Ataukah cukup hanya dengan memandangnya, berusaha mencari jawaban di dalam mata Damar yang dulu begitu ia kenal?

Saat itulah, di kejauhan, di bawah sorot lampu taman yang lembut, Kikan melihat sosok yang tidak asing. Dadanya bergemuruh hebat, jantungnya berdebar seakan hampir keluar dari dada. Kedua kakinya terasa terpaku di tanah, seperti dunia mendadak berhenti berputar. Di sana, di bawah cahaya redup lampu taman, seorang lelaki duduk sendirian di bangku, tubuhnya sedikit membungkuk, seakan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bayangan wajahnya yang samar, tiba-tiba saja menguatkan dugaan Kikan.

“Damar…” lirihnya pelan, hampir seperti bisikan yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri, namun terasa begitu dalam.

Lampu-lampu taman menyinari sosok Damar dengan lembut, menciptakan bayangan yang begitu akrab di hati Kikan. Tanpa sadar, kedua kaki Kikan mulai melangkah pelan menuju Damar, seolah langkah-langkah itu adalah panggilan tak terelakkan. Setiap langkah yang diambil seakan menuntunnya lebih dekat, dan bersama dengan itu, rasa gusar yang sebelumnya mengusik hatinya perlahan berubah menjadi harapan yang tak tertahankan, semakin membuncah dalam dada.

Akhirnya, di hadapannya, ia menemukan sosok yang selama ini ia cari-cari, Damar— yang membawa serta kenangan dan perasaan yang tak pernah benar-benar hilang. Namun, meskipun ia sudah berada di hadapannya, hati Kikan masih diliputi oleh keraguan. Mampukah ia mendekatinya dan menanyakan semua yang telah lama menggantung di benaknya? Atau cukupkah dengan berada di sana, diam-diam menyaksikannya, merasakan kenyataan bahwa ia akhirnya menemukan sosok yang telah lama hilang?

“Hanya pengecut yang merawat bunga, lalu membiarkannya dipetik orang lain tanpa berjuang.”

Kikan berdiri mematung, matanya tertuju pada sosok Damar yang kini duduk di bangku taman. Damar hanya menatap balik, terbawa oleh kepedihan yang tersimpan di dalam tatapan Kikan.

“Jadi, kamu pikir aku pengecut?” Damar akhirnya bicara, nadanya terdengar tenang namun penuh dengan luka yang mendalam.

Kikan menghela napas, suaranya bergetar menahan emosi. “Aku tidak tahu apa lagi yang harus kupikirkan, Damar. Kamu menghilang tanpa alasan, tanpa penjelasan. Dan yang tersisa hanya rasa sakit yang semakin dalam.”

Damar menunduk, suaranya hampir tak terdengar.

Lihat selengkapnya