Akhir yang Mengawali
Beberapa hari setelah pertemuan di taman, Kikan dan Damar merasakan sebuah ikatan yang tumbuh di antara mereka. Sebuah hubungan yang kini terasa lebih kuat, lebih mendalam, dan lebih tulus dari yang pernah mereka bayangkan.
Dalam diam, mereka sepakat untuk kembali ke tempat pertama kali mereka bertemu: pantai Parangtritis, tempat di mana semua perasaan ini bermula.
Setibanya di pantai, angin laut menyambut mereka, mengusap lembut wajah mereka dengan aroma segar dari garam laut yang menyejukkan. Suara ombak yang memecah di kejauhan menciptakan ketenangan yang menyelimuti hati mereka. Kikan menatap luasnya samudera yang terbentang di depan mereka, merasakan betapa tempat ini telah menjadi bagian penting dalam kisah mereka. Di sini, semua cerita mereka dimulai—tempat di mana ia merasakan segala perasaan yang rumit tentang cinta, kehilangan, dan harapan yang tak terungkapkan.
Damar berdiri di sampingnya, matanya menyusuri gelombang yang berkejaran di tepi pantai. “Aku ingat saat pertama kali kita bertemu di sini,” katanya, suaranya penuh nostalgia. “Sejak saat itu, aku tahu ada sesuatu yang istimewa antara kita.”
Kikan tersenyum, mengenang kembali momen-momen manis yang mereka lalui. “Dan aku ingat bagaimana rasa sakit itu mengubah semuanya. Namun, Damar, hari ini, aku ingin kita melupakan masa lalu dan mengukir kenangan baru di sini, di tempat yang penuh arti bagi kita.”
Mereka melangkah lebih dekat ke air, ombak lembut menyentuh kaki mereka. Kikan berbalik menatap Damar dengan penuh harapan. “Hari ini, kita mulai dari awal lagi. Tanpa luka, tanpa rasa sakit. Hanya kita dan segala kemungkinan yang ada di depan.”
Damar meraih tangan Kikan, menggenggamnya erat. “Aku berjanji, Kikan. Tidak ada yang akan bisa memisahkan kita, selama kita saling menjaga dan Tuhan merestui. Kita akan bersama, menghadapi hidup ini, bersama-sama mengarungi setiap ombak yang datang. Aku akan selalu ada di sisimu.”
Kikan merasa hatinya penuh dengan rasa syukur. Mereka berpelukan di tepi pantai, membiarkan gelombang menyapu pasir di sekitar mereka. Di momen itu, semua rasa sakit dari masa lalu terasa menghilang. Kikan berbisik dalam hati, ‘Denganmu, aku bisa melihat masa depan yang lebih cerah.’
Di bawah sinar matahari yang perlahan tenggelam, Kikan dan Damar melanjutkan langkah mereka, jejak kaki mereka tertinggal di pasir lembut, sebuah awal baru yang penuh harapan, di tempat yang telah menyaksikan cinta mereka pertama kali bersemi.
“Oh, ya, Dam, kenapa sih rumah Tante Rani dijual? Terus, Tante Rani sekarang tinggal di mana?” tanya Kikan, memiringkan kepala dan memandang Damar dengan penuh selidik, saat mereka menyusuri pesisir pantai.
Damar menghela napas, mencoba memasang wajah serius, sambil menepis lengannya yang sejak tadi merangkul Kikan.
“Hmm, sebenarnya... rumah itu enggak beneran dijual, Kan.”
“Hah?” Kikan melongo. “Maksudnya gimana?”
Damar cengengesan. “Itu cuma akal-akalan aku sama Tante Rani. Jadi, sebelum aku balik ke Bandung, aku bilang sama Tante, ‘Tenang aja, Tante. Kalau nanti Kikan nanyain, bilang aja rumahnya mau dijual.’”
Kikan menatap Damar dengan ekspresi campur aduk antara bingung dan geli.
“Tunggu... jadi, kamu cuma mau aku penasaran gitu?”
Damar mengangguk sambil cengengesan lebih lebar. “Iya, biar kesannya dramatis gitu. Biar kamu mikir, ‘Aduh, rumah Tante Rani dijual. Kok bisa sih?’ Padahal Tante Rani masih asyik-asyikan di rumah itu.”